Liputan6.com, Jakarta: Kemungkinan pecah Perang Teluk II tak hanya menarik minat pengamat militer dan politik, sejumlah analisis bursa saham juga menyuarakan prediksi. Analisis bursa saham Mirza Adityaswara, misalnya. Menurut dia, menjelang berakhirnya batas waktu ultimatum Presiden Amerika Serikat George W. Bush terhadap Presiden Irak Saddam Hussein, volume perdagangan valuta asing dan bursa saham diperkirakan akan melonjak. Kendati demikian, lonjakan ini sangat ditentukan dengan waktu dan eskalasi serangan AS serta ekonomi Negeri Paman Sam pascaperang. Pandangan tersebut dikemukakan Mirza di Jakarta, baru-baru ini.
Kecenderungan kenaikan harga saham di sejumlah bursa saham dunia, menurut Mirza, nampak sehari setelah Presiden Bush mengultimatum Saddam [baca: Bush Mengultimatum Saddam dalam 48 Jam]. Meski harga-harga saham dan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama lainnya sempat turun karena ketidakpastian soal rencana serangan tersebut, tambah Mirza, para pemodal langsung melakukan pembelian saham setelah pasar melihat AS akan menyerang Irak.
Selain dua hal tersebut, masih menurut Mirza, kecenderungan pasar valuta dan saham pada akhirnya bakal ditentukan oleh perekonomian AS pascaperang. Akan tetapi, kinerja ekonomi Negeri Kapitalis itu tetap akan berimbas ke Asia.
Sekadar diketahui, dua hari terakhir, fund manager di New York, AS, memborong sejumlah saham setelah Presiden Bush mengultimatum Saddam. Kemarin, Bursa Efek di New York (Wall Street) dan Bursa Nasdaq terus menguat, tapi bursa utama Asia justru turun. Namun, pembelian yang dilakukan sejumlah pemodal di bursa New York, dinilai mengindikasikan pemihakan mereka terhadap Bush. Sedangkan investor di Asia, justru mencemaskan dampak ekonomi dunia pascaperang.(ANS/Dwi Nindyas)
Kecenderungan kenaikan harga saham di sejumlah bursa saham dunia, menurut Mirza, nampak sehari setelah Presiden Bush mengultimatum Saddam [baca: Bush Mengultimatum Saddam dalam 48 Jam]. Meski harga-harga saham dan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama lainnya sempat turun karena ketidakpastian soal rencana serangan tersebut, tambah Mirza, para pemodal langsung melakukan pembelian saham setelah pasar melihat AS akan menyerang Irak.
Selain dua hal tersebut, masih menurut Mirza, kecenderungan pasar valuta dan saham pada akhirnya bakal ditentukan oleh perekonomian AS pascaperang. Akan tetapi, kinerja ekonomi Negeri Kapitalis itu tetap akan berimbas ke Asia.
Sekadar diketahui, dua hari terakhir, fund manager di New York, AS, memborong sejumlah saham setelah Presiden Bush mengultimatum Saddam. Kemarin, Bursa Efek di New York (Wall Street) dan Bursa Nasdaq terus menguat, tapi bursa utama Asia justru turun. Namun, pembelian yang dilakukan sejumlah pemodal di bursa New York, dinilai mengindikasikan pemihakan mereka terhadap Bush. Sedangkan investor di Asia, justru mencemaskan dampak ekonomi dunia pascaperang.(ANS/Dwi Nindyas)