Banyak Kontroversi, Bisakah Cuma Fokus ke Sepak Bola di Piala Dunia 2022 Qatar?

Surat FIFA kepada peserta Piala Dunia 2022 untuk fokus saja pada sepakbola, tidak mempersoalkan hal-hal lain selama Piala Dunia 2022 di Qatar mendapat dukungan dan penolakan.

oleh Yo KavyaDiterbitkan 14 November 2022, 12:00 WIB
Bangun Stadion Piala Dunia, Qatar Gunakan Kerja Paksa (AFP)

Liputan6.com, Jakarta Selain menantikan aksi para pemain, hal lain yang dinanti adalah sikap beberapa tim nasional terutama dari Eropa terhadap himbauan FIFA untuk fokus saja pada sepakbola selama Piala Dunia 2022.

Berbagai isu serta kontroversi memang kerap menyelimuti proses penyelenggaraan Piala Dunia 2022, tepat sejak Qatar ditunjuk sebagai tuan rumah pada tahun 2010 lalu.

Pembicaraan soal hak asasi manusia para pekerja imigran kerap menjadi perhatian khusus media hingga bahkan para negara peserta Piala Dunia 2022.

FIFA sempat mengirimkan surat kepada para pimpinan federasi dari 32 peserta Piala Dunia agar pada turnamen nanti, semua tim fokus hanya pada aspek sepak bola saja.

"Tolong, mari sekarang kita fokus ke sepakbola! Kita tahu sepakbola tidak hidup dalam lingkungan eksklusif, dan kita semua sadar banyak tantangan dan kesulitan dari situasi politik di seluruh dunia," tulis FIFA.

"Namun tolong jangan biarkan sepakbola terseret dalam setiap pertarungan politik atau ideologi yang ada. Di FIFA, kami mencoba menghormati segala opini dan kepercayaan, tanpa memberikan pelajaran moral kepada seluruh dunia."

Surat yang ditandatangani oleh juga oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino dan Sekjen FIFA, Fatma Samoura.tak pelak menimbulkan beragam reaksi, ada yg mencibir, marah dan juga mendukung.

Infantino juga menegaskan bahwa semua orang akan diterima di Qatar, terlepas dari suku, latar belakang, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau negara asal.

FIFA mendapatkan dukungan dari atau Federasi Sepakbola Afrika (CAF), yang disampaikan langsung oleh Presiden CAF, Patrice Motsepe, seperti dikutip dari Daily Mail.

 


Dukungan

Gambar yang dirilis pada 20 November 2019, Stadion Lusail yang menjadi venue Piala Dunia 2022 sedang dalam pembangunan di utara ibu kota Qatar, Doha. Piala Dunia 2022 Qatar rencananya akan dimulai pada 21 November hingga 18 Desember. (Qatar’s Supreme Committee for Delivery and Legacy/AFP)

Sebelumnya Federasi Sepakbola Amerika Selatan (CONMEBOL) dan Federasi Sepakbola Asia (AFC) sudah terlebih dahulu menyatakan dukungannya.

Dukungan atas hal itu juga disuarakan oleh pelatih Liverpool, Jurgen Klopp. Ia berpendapat, para pemain harusnya fokus saja dengan Piala Dunia 2022 dan tidak perlu memedulikan urusan pelanggaran HAM di Qatar.

"Saya melihatnya dari sudut pandang sepakbola dan saya tidak suka fakta bahwa para pemain kami, dari waktu ke waktu, berada dalam posisi di mana mereka harus mengirim pesan perdamaian," kata Klopp seperti dikutip dari Independent.

Lanjut Baca:

"Kami harus mengatur pemain kami untuk pergi ke sana, bermain dan melakukan yang terbaik untuk negara mereka," lanjut Klopp. Sedangkan Denmark yang para pemainnya merencanakan mengenakan jersey bertuliskan “Hak Asasi Manusia untuk Semua” mendapatkan penolakan dari FIFA. Mereka pun menerima hal itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya