Pengakuan Asamoah Gyan, 12 Tahun setelah Aksi Tangan Setan Luis Suarez di Piala Dunia 2010

Pertandingan perempat final Piala Dunia 2010 antara Uruguay vs Ghana akan selalu dikenang karena menyuguhkan banyak drama, salah satunya aksi tangan setan Luis Suarez yang menyelamatkan Uruguay.

oleh Mohamad TaufikDiperbarui 13 November 2022, 12:27 WIB
Ghana. Termasuk Piala Dunia 2022, Ghana telah lolos sebanyak 4 kali ke putaran final Piala Dunia. Dalam 3 edisi sebelumnya, 2006 hingga 2014 mereka mampu 2 kali lolos dari fase grup, yaitu di Piala Dunia 2006 dan 2010. Pada edisi 2006 Ghana terhenti di babak kedua (16 besar) usai kalah 1-3 dari Brasil. Sementara pada edisi 2010 Ghana hampir lolos ke semifinal usai kalah adu penalti 2-4 dari Uruguay setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal hingga perpanjangan waktu. Sebenarnya laga bisa saja dimenangkan Ghana di waktu normal andai eksekusi penalti Asamoah Gyan di penghujung laga berbuah gol akibat handball tak sportif Luis Suarez. (AFP/Pedro Ugarte)

Liputan6.com, Jakarta Piala Dunia selalu menciptakan kisah yang menguras emosi dan pastinya dikenang sampai kapan pun. Salah satunya adalah drama di babak perempat final Piala Dunia 2010 antara Ghana melawan Uruguay.

Soccer City di Kota Johannesburg, Afrika Selatan, pada 2 Juli 2010, jadi panggung saat rangkaian peristiwa penuh drama di laga Uruguay vs Ghana, membuat emosi jutaan penggemar sepak bola, naik turun.

Pertandingan Uruguay melawan Ghana pantas masuk dalam daftar laga paling dramatis sepanjang sejarah Piala Dunia.

Puncak drama itu, terjadi setelah laga berjalan 2 jam. Di penghujung pertandingan Luis Suarez melakukan tindakan yang bagi warga Uruguay adalah aksi heroik.

Suarez, salah satu striker terbaik yang pernah ada dan kontroversial, nekat menahan bola sundulan Dominic Adiyiah di detik-detik akhir babak perpanjangan waktu.

Wasit asal Portugal Olegario Benquerenca tak ragu menjatuhkan hukuman kartu merah kepada Luis Suarez.

Kemenangan seolah ada di pelupuk mata para pemain Ghana, ketika Asamoah Gyan, maju untuk mengeksekusi penalti.

Dia terlihat cukup yakin menghadapi Fernando Muslera. Tak ada yang salah dengan keputusan Asamoah Gyan menempatkan bola, karena berhasil mengecoh Muslera.

Tapi penempatan bola tidak cukup, sebab dibutuhkan presisi untuk mengubahnya menjadi gol. Dua hal itu yang tak bisa disinkronkan Asamoah Gyan.

Bola tembakan Asamoah Gyan mengarah ke tengah, tetapi membentur mistar gawang bagian atas, sementara Muslera bergerak ke sisi kanan.

Tak ayal Suarez seketika menjadi pahlawan karena keputusannya. Yang dilakukan Luis Suarez saat itu, mengingatkan orang-orang pada aksi Maradona di Piala Dunia 1986.

Jika gol licik Maradona disebut 'Gol Tangan Tuhan', maka yang dilakukan Luis Suarez di Piala Dunia 2010 adalah Tangan Setan.

 


Penyesalan Asamoah Gyan

Aksi striker Ghana Asamoah Gyan di sesi latihan di Rustenburg, 29 Juni 2010 jelang laga perempat final PD 2010 lawan Uruguay di Soccer City, Johannesburg, 2 Juli 2010. AFP PHOTO / PAUL ELLIS

Uruguay akhirnya jadi pemenang setelah dua penendang Ghana gagal menjalankan tugasnya di babak adu penalti, John Mensah dan Dominic Adiyiah yang seharusnya jadi pahlawan untuk Ghana andai tak ada Tangan Setan dari Luis Suarez.

Kekalahan Ghana dari Uruguay saat itu pun terasa semakin menyakitkan. Rakyat Ghana masih tak percaya Black Stars harus kalah tragis, dengan kenyataan mereka nyaris menang karena mendapat penalti di detik-detik akhir perpanjangan waktu.

Lanjut Baca:

12 tahun setelah peristiwa menyakitkan itu, Asamoah Gyan, buka suara dan mengaku sehari sebelum pertandingan dramatis itu, dia berlatih tendangan penalti secara khusus karena sadar selalu ada potensi penalti, apalagi di babak gugur, adu penalti kerap harus jadi pilihan untuk menentukan pemenang. "Sehari sebelum pertandingan Uruguay, saya menembak 20 penalti melawan kiper kami saat latihan. Saya mencetak semuanya," kata Asamoah Gyan dalam sebuah wawancara dinukil dari laman FIFA. Asamoah Gyan kemudian menceritakan detik-detik saat dirinya berhadapan dengan Fernando Muslera. Awalnya dia berniat menendang bola agak rendah, tetapi bola kemudian malah naik ke atas. "Saya bergerak ke sisi kiri kiper (Muslera) dan kemudian saya melihatnya bergerak ke kanan, ketika saya menembak bola," ungkapnya. "Dia mencoba menipu saya dan kemudian dia bergerak. Saya tidak tahu bagaimana bola naik. Secara teknis ada yang salah. Saya tidak memiliki teknik yang tepat," kisah Sampai sekarang, Asamoah Gyan percaya dia telah mengecewakan negaranya dan seluruh benua Afrika yang berharap kepada Ghana karena telah membuang kesempatan dari tendangan penalti.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya