Liputan6.com, Jakarta Perkembangan industri hiburan khususnya dunia sinema tentu tidak luput dari kerja keras para filmmaker (sineas), sinematografer, videografer, serta divisi lain yang kompeten di bidangnya untuk menciptakan produk visual yang memicu emosi, memberi pesan atau makna, serta memikat penonton.
Rayhan Farqi sebagai filmmaker muda asal Bandung, memahami betapa pentingnya kualitas sinematografi untuk mengekspresikan dan mengeksplorasi ide-ide melalui media film serta konten konkret lainnya.
Advertisement
Farqi mendirikan dua rumah produksi untuk menyokong produksi karya-karya audiovisual dengan fokus berbeda, yaitu perusahaan Studio Sinema (@studiosinema) dan Small Space (@smallspacetv).
Studio Sinema adalah perusahaan produksi layanan lengkap, mulai dari storyboard hingga film dengan pendekatan orisinalitas dan kreativitas.
Farqi berkomitmen untuk menghidupkan ide-ide dengan konten sinematik berbasis naratif asli melalui kerja produksi yang dapat diandalkan.
Perubahan Cepat Lanskap Media
Sementara Small Space adalah platform musik yang mewadahi para seniman serta musisi untuk merilis musik dengan bahasa visual yang mereka impikan.
Farqi dan tim bekerja untuk mengembangkan seni multidimensi (memadukan melodi, seni visual, dan bercerita) dari berbagai pertunjukan musik live sebagai kreator.
"Saya merasa perlu 'terjun' sekarang karena lanskap media berubah dengan sangat cepat; memberdayakan audiens dengan pilihan-pilihan yang belum pernah ada sebelumnya. Hanya beberapa filmmaker yang telah menemukan cara untuk berbicara 'bahasa' yang berkembang dari generasi ini tanpa memudar menjadi white noise," kata Farqi.
"Saya merancang diri saya untuk bekerja secara artist-friendly above all else dan tetap menganut kualitas tertinggi di setiap karya dengan ide-ide yang tidak konvensional," sambungnya.
Pengalaman Berkarya
Farqi merangkap sebagai director, cinematographer, editor, dan colorist. Sejak 2018, Farqi sudah berkarya dalam pembuatan video untuk berbagai musisi lokal ternama termasuk Efek Rumah Kaca, Elephant Kind, Agatha Pricilla, GANGGA, Loner Lunar, Feel Koplo, White Corus, Oscar Lolang, Mojowojo, dan banyak lagi.
Beberapa karya lainnya berupa dokumenter dan series, termasuk mini-documentary Miss Earth Indonesia 2020. Lalu ada juga series live performance Hindia dan .Feast di berbagai panggung yang mereka mainkan, serta limited series Loner Lunar untuk menutup album pertama mereka.