Terungkap, Segini Harga Produksi Mobil Tim Universitas Indonesia yang Jadi Juara di Shell Eco-marathon 2022

Rangkaian kompetisi inovasi mobil hemat energi, Shell Eco-Marathon 2022, di Sirkuit Mandalika resmi berakhir pada Sabtu (15/10/2022) lalu. Universitas Indonesia menjadi salah satu tim tersukses usai menyabet gelar juara dari dua kategori berbeda.

oleh Theresia Melinda IndrasariDiperbarui 08 Juli 2023, 12:25 WIB
Nakoela Team dari Universitas Indonesia saat mempersiapkan kendaraannya di paddock untuk adu irit bahan bakar dalam perhelatan Shell Eco-marathon 2022 yang berlangsung di Sirkuit Mandalika pada 14-15 Oktober 2022. Turun di kategori Prototype, mobil yang diberi nama Keris RVIII ini menggunakan sumber energi Internal Combustion Engine (ICE) berupa bensin. (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Liputan6.com, Jakarta Rangkaian kompetisi inovasi mobil hemat energi, Shell Eco-Marathon 2022, resmi berakhir pada Sabtu (15/10/2022) lalu. Dihelat di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia nyaris menyapu bersih seluruh gelar juara di ajang tersebut.

Universitas Indonesia menjadi salah satu peserta tersukses dalam Shell Eco-marathon perdana Tanah Air. Mereka diketahui mengirim dua perwakilan yakni, Nakoela Team dan Arjuna Team. Seluruhnya sanggup naik ke podium tertinggi di kategori masing-masing.

Nakoela menyabet gelar juara untuk tipe kendaraan Prototype, dengan sumber energi Internal Combustion Engine (ICE). Mereka berhak atas trofi kemenangan setelah mencatatkan hasil terbaik 905 km/l.

Adapun Arjuna berjaya dalam kategori Urban Concept. Tim bernomor 715 tersebut menjadi raja baterai elektrik berkat capaian 194 km/kWh.

Kemenangan pasukan Universitas Indonesia dalam Shell Eco-marathon 2022 bukanlah hal yang mudah untuk didapat. Sebabnya, anggota tim harus menyiapkan dana besar guna memproduksi mobil hemat energi versi mereka.

Manajer Nakoela Rayhan Danendra Wiracalosa mengungkap, ia dan rekan-rekannya menghabiskan biaya sekitar 300-400 juta untuk menciptakan kendaraan yang dilombakan di Sirkuit Mandalika. Angka itu  belum mencakup pengeluaran lain-lain untuk kebutuhan riset.

“Kalau untuk mobil ini, kita sudah merancang di harga sekitar 300-400 juta kurang lebih. (Itu) untuk merancang seluruh mobil kami sampai bisa jalan, belum termasuk dengan riset,” ujar Rayhan saat ditemui selepas penutupan Shell Eco-marathon pada Sabtu (15/10/2022).


Komponen Termahal

Mobil Nakoel Team (Universitas Indonesia) membutuhkan biaya sekitar Rp300-400 juta untuk produksi. Adapun body, yang terbuat dari fiber glass, menjadi komponen termahal dalam kendaraan ini. (Liputan6.com/Melinda Indrasari)

Lebih lanjut, menurut Rahyan, body menjadi komponen paling mahal dalam proses produksi mobil hemat energi Nakoela.

Pasalnya, mereka menggunakan bahan berupa carbon fiber yang memang dikenal kurang terjangkau. Sebanyak 45 persen dari biaya pembuatan kendaraan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan body.

“Komponen yang paling mahal adalah body. Body (kendaraan) kami itu kan menggunakan carbon fiber. (Manufaktur) sasisnya juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Dari segi desain pun harus kami pikirkan matang-matang supaya tidak ada kesalahan manufaktur.”

“Bisa dibilang karbon itu memakan hampir 45 persen biaya kendaraan kami. Semahal itu. (Dibanding mesin) jauh lebih mahal karbon,” kata Rayhan menambahkan.

Lanjut Baca:

Sebelumnya, Rayhan sempat mengaku belum puas meski sudah meraih kemenangan di Shell Eco-Marathon 2022. Penyebabnya ialah catatan yang tak sesuai harapan. Nakoela sejatinya menargetkan hasil terbaik di kisaran 1000 km/l. "Untuk hasil sekarang, sejujurnya kami masih belum puas dari segi angka karena kami targetnya untuk kejuaraan itu empat digit atau 1000km/l," ujarnya saat ditemui pasca seremoni penutupan Shell Eco-Marathon 2022 di Sirkuit Mandalika pada Sabtu (15/10/2022). "Ke depannya, kami akan melakukan evaluasi dan melakukan inovasi kembali supaya mobil kami dapat menempuh efisiensi yang paling maksimal, serta bisa mempertahankan juara satu ini," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya