Piala Dunia 2022 Qatar Ciptakan Dampak Besar di Perairan Teluk

Kebutuhan yang sangat besar atas air tawar menimbulkan dampak lingkungan, khususnya ekosistem di Perairan Teluk.

oleh YuliantoDiterbitkan 10 Oktober 2022, 08:00 WIB
Gambar yang dirilis pada 20 November 2019 memperlihatkan Stadion Al Bayt yang menjadi venue Piala Dunia 2022 sedang dalam pembangunan di utara kota Al Khor. Piala Dunia 2022 Qatar rencananya akan dimulai pada 21 November hingga 18 Desember. (Qatar’s Supreme Committee for Delivery and Legacy/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Qatar membutuhkan setidaknya 10 ribu liter air setiap hari untuk setiap stadion saat Piala Dunia 2022 berlangsung. Berbasis di wilayah dengan hampir tidak ada akses ke air tawar, mereka akan bergantung pada desalinasi, yakni praktik penyulingan air asin sehingga dapat diminum.

Itu adalah solusi terbaik. Masalahnya, desalinasi, yang diproyeksikan meningkat 37% di seluruh wilayah Teluk dalam lima tahun ke depan, memiliki biaya lingkungan yang sangat besar.

Sebesar 43 persen dari kapasitas desalinasi dunia berasal dari negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Meski air langka, GCC adalah salah satu konsumen tertinggi di dunia, dan sangat bergantung pada pabrik desalinasi.

Uni Emirat Arab memiliki salah satu tingkat konsumsi air per kapita tertinggi di dunia, dengan orang-orang yang menggunakan sekitar 500 liter sehari atau 50 persen di atas rata-rata global.

Dengan meningkatnya populasi, industri air di kawasan itu pun menghadapi tekanan yang meningkat. “Jika Anda melihat kapasitas desalinasi di seluruh GCC secara keseluruhan, volume air yang mengalir melaluinya adalah sekitar empat kali jumlah air yang mengalir di Sungai Thames,” kata Will Le Quesne, direktur program Timur Tengah untuk Ilmu Lingkungan, Perikanan, dan Budidaya UK Center.


Proses Desalinasi dapat Menghidupi Negeri Timur Tengah

Stadion Internasional Khalifa terletak di ibu kota Qatar, Doha. Stadion ini dibangun pada 1976 dan direnovasi pada 2005 serta 2014-2017. Renovasi terakhir dilakukan untuk menyambut Piala Dunia 2022. (AFP/Karim Jaafar)

Maryam Rashed Al Shehhi, asisten profesor infrastruktur sipil dan teknik lingkungan di Universitas Khalifa di UEA, mengatakan: “Desalinasi adalah sumber utama air bersih kami. Ini adalah wilayah yang sangat gersang, dan curah hujan tahunan telah menurun. Jadi, sangat menakutkan untuk memikirkan sumber air lainnya.”

Sejak 1950-an, GCC berada di garda depan desalinasi. Pantai selatan teluk dihiasi dengan lebih dari 300 pabrik desalinasi, sebagian besar di Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain.

Menghidupkan konsentrasi desalinasi terbesar di dunia membutuhkan sejumlah besar energi. Arab Saudi, produsen terbesar, merupakan seperlima dari produksi dunia, dengan sekitar 30 pabrik desalinasi membakar 300.000 barel minyak mentah per hari.

Faktanya, sebagian besar pabrik desalinasi bertenaga minyak atau gas, beroperasi dengan teknologi pemrosesan termal, yang mengumpulkan uap dari air mendidih dan mengembunkannya, atau teknologi reverse osmosis yang lebih modern, sangat bergantung pada listrik yang dihasilkan menggunakan gas alam untuk menggerakkan pompa yang memaksa air melalui membran yang sangat halus, pada dasarnya menyaring garam di dalam air.

Lanjut Baca:

“Bagaimanapun, kamu membutuhkan cukup banyak energi. Itu bisa didapat dari banyak sumber termasuk dengan membakar bahan bakar fosil,” kata Le Quesne. Jadi, meskipun Qatar menyatakan bahwa Piala Dunia akan netral karbon, organisasi iklim sudah mengungkapkan keraguannya. Tuntutan air saja sudah menggiurkan. Turnamen ini perlu mengelola 144 lapangan di delapan stadion, dan lebih dari 130 tempat latihan tambahan. Proses halus dan rumit dalam menciptakan rumput yang tepat untuk sepak bola di iklim Qatar begitu kompleks. Panitia meniupkan udara dingin di atas rumput dan menyirami lapangan dengan setidaknya 10.000 liter air desalinasi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya