Profil Stadion Kanjuruhan, Markas Arema yang Kini Jadi Sorotan

Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang memiliki sejarah yang mewarnai perjalanan klub Arema FC dan persepakbolaan Indonesia, terutama dengan tragedi meninggalnya lebih dari 150 orang.

oleh Yo KavyaDiterbitkan 02 Oktober 2022, 16:30 WIB
Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan Malang usai laga Arema FC Vs Persebaya Suarabaya. Sebanyak 127 orang tewas dalam tragedi tersebut. (Liputan6.com/Zainul Arifin)

Liputan6.com, Jakarta Stadion Kanjuruhan, Malang, menghadirkan sisi kelam bagi sepak bola Indonesia. Markas Arema Malang yang selama ini dikenal angker bagi tim lawan, kini justru meminta 'tumbal' suporter sendiri. 

Tidak tanggung-tanggung, setidaknya 129 orang meninggal dunia di lokasi tersebut. Sebagian besar, kehabisan napas setelah terhimpit di pintu ke luar saat panik usai dikepung perihnya gas air mata. 

Dari jumlah korban, tragedi Arema jadi yang kedua terburuk di dunia. Sementara bagi Indonesia, insiden yang pasca laga Arema vs Persebaya itu jadi catatan paling kelam perjalanan sepak bola Tanah Air.   

Butuh waktu satu jam dari kota Malang ke Stadion Kanjuruhan yang terletak di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Stadion Kanjuruhan sudah dikenal luas bagi penggemar sepakbola sebagai markas Arema FC, klub yang berkiprah di Liga 1 dengan julukan Singo Edan.

Selain itu, Stadion Kanjuruhan juga menjadi kandang Persekam Metro FC yang bermain di Liga 3

Kanjuruhan diambil dari nama kerajaan yang bercorak Hindu di Malang pada abad ke-6 Masehi. Prasasti Dinoyo, yang juga dikenal sebagai Batu Bersurat Dinoyo, merupakan bukti dari kerajaan Kanjuruhan.

Prasasti Dinoyo ini dibuat pada masa pemerintahan Ken Arok (Raja Singosari - kerajaan bercorak Hindu-Budha di Malang). Ditulis dengan huruf Jawa kuno memakai bahasa Sansekerta, prasasti ini  bisa disaksikan di Museum Nasional Indonesia di Jl Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat

Di dalam prasasti Dinoyo bisa diketahui Kanjuruhan merupakan pusat aktifitas budaya dan politik pada tahun 760 hingga 1414.

Pembangunan Stadion Kanjuruhan dilakukan pada tahun 1997 dengan biaya Rp 35 miliar, diresmikan oleh Presiden RI, Megawati Soekarno Putri pada 9 Juni 2004.

Peresmian stadion milik Pemerintah Kabupaten Malang ini ditandai dengan sebuah laga uji coba di tengah musim Liga Indonesia Divisi I 2004 antara Arema melawan PSS Sleman. Pertandingan pertama di Stadion Kanjuruhan ini berakhir untuk kemenangan Arema 1-0.

Para pemain Arema FC merayakan gol yang dicetak oleh Abel Camara dalam leg pertama final Piala Presiden 2022 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Kamis (14/7/2022) malam. Arema FC menang 1-0 atas Borneo FC dalam laga final pertama ini. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Rumah Aremania

Laga tersebut sekaligus menandai pertama kalinya Arema pindah dari homebase lama Stadion Gajayana, Kota Malang ke Malang Selatan. Aremania pun melakukan aksi kreativitasnya untuk pertama kalinya di stadion ini.

Lanjut Baca:

Meski demikian, stadion ini dipakai Arema secara penuh sebagai homebase di Ligina 2006. Sementara, di Ligina 2005, skuad Singo Edan masih menggunakan Gajayana dan Kanjuruhan secara bergantian. Stadion yang kini berkapasitas 42.449 tempat duduk itu pada tahun 2010 renovasi sebagai syarat mengikuti Liga Champions AFC 2011 dengan menambah daya pada pencahayaan Arema pernah didapuk sebagai juara Indonesia Super League (ISL) 2009-2010 lewat sebuah laga eksebisi Perang Bintang. Stadion ini juga menjadi saksi bisu Aremania pernah meraih predikat The Best Suporter di ajang Copa Indonesia 2006, meski pemberian gelar dan hadiah tak dilakukan di sini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya