Liputan6.com, Jakarta Kerusuhan terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, pasca pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya hari Sabtu, 1 Oktober 2022. Tragedi Kanjuruhan ini bahkan menelan korban hingga 127 orang, yang meninggal di stadion dan juga di rumah sakit.
Seorang suporter Arema bernama Rezki Wahyu menceritakan momen-momen menakutkan yang terjadi dalam tragedi Arema vs Persebaya lewat utas yang ditulis di akun Twitter miliknya @RezqiWahyu.
Advertisement
"Tanpa mengurangi rasa respect saya kepada keluarga korban. Di sini saya mencoba menjelaskan kronologi yang saya alami secara pribadi," tulis akun tersebut.
Dalam unggahannya itu, Rezki mengatakan sebelum tragedi Kanjuruhan Malang itu situasi sebenarnya tertib sejak pemanasan hingga pertandingan akan dimulai pukul 20.00 WIB.
"Hanya terlihat suporter Arema yang melontarkan psywar ke arah pemain Persebaya," tulisnya.
Pertandingan berjalan seru. Persebaya sempat unggul 2 gol sebelum dibalas 2 gol oleh tuan rumah. Skor imbang 2-2 menutup 45 menit pertama.
Lalu Rezki menceritakan kalau sempat terjadi sedikit kericuhan di tribun 12 dan 13 usai babak pertama usai, namun polisi dengan cepat dapat mengatasinya.
Saat babak kedua bergulir, Persebaya berhasil membobol gawang Arema untuk kali ketiga. Suporter tuan rumah pun geregetan karena Arema terus mengepung lawan tapi tak ada gol yang tercipta.
Tragedi pun bermulai saat peluit panjang ditiupkan wasit dan Arema tidak bisa menyamakan kedudukan. Para pelatih dan pemain Arema tampak memberikan gestur minta maaf ke suporter.
Seorang suporter nekat turun dari tribun selatan dan masuk lapangan mendekati Sergio Silfa dan Adilson Maringa.
"Ia tampak memberikan motivasi dan kritik. Kemudian ada lagi beberapa oknum yang ikut masuk untuk meluapkan kekecewaan pada pemain Arema, tampak John Alfarizie mencoba beri pengertian pada oknum-oknum tersebut," jelas utas tersebut.
Memicu Ribuan Suporter Masuk Lapangan
Namun, masuknya suporter-suporter tersebut membuat semakin banyak orang yang memaksakan masuk ke dalam lapangan. Kondisi stadion pun semakin ricuh.
Tak hanya itu, lemparan barang dari arah tribun pun semakin masif dan tidak terkendali. Akhirnya para pemain pun digiring ke dalam ruang ganti dengan kawalan pihak berwajib.