Liputan6.com, Jakarta Akhirnya film Miracle In Cell No. 7 tayang di bioskop. Karya sineas Hanung Bramantyo ini adaptasi resmi dari film Korea Selatan berjudul sama, disutradarai Lee Hwan Kyung.
Miracle In Cell No. 7 versi Indonesia kisahnya berawal dari tewasnya bocah bernama Melati Wibisono (Makayla Rose) dengan sejumlah luka memar. Melati anak petinggi partai, Willy Wibisono (Iedil Dzuhrie).
Advertisement
Dodo Rozak (Vino G Bastian) yang sehari-hari jualan balon didakwa bersalah dan dipenjara. Putri Dodo, Kartika (Graciella Abigail), dikirim ke Panti Asuhan Mentari karena ibunya, Juwita (Marsha Timothy), meninggal akibat perdarahan saat bersalin.
Dodo dijebloskan ke sel nomor 7. Di sana Japra (Indro Warkop), Atno (Indra Jegel), Zaki (Tora Sudiro), Yunus (Rigen Rakelna) dan Asrul (Bryan Domani). Berikut review film Miracle In Cell No. 7 yang diproduksi Falcon Pictures.
Kerusuhan di Lapas
Suatu hari, terjadi kerusuhan di lapas gara-gara seorang narapidana merasa terusik oleh bisnis yang dikendalikan Japra dari balik jeruji besi. Ia mencoba menghabisi Japra namun upaya ini digagalkan Dodo.
Akibatnya, Dodo mengalami luka tusuk. Merasa utang budi, Japra meluluskan permintaan Dodo untuk bertemu Kartika. Kartika kecil diselundupkan ke penjara. Lambat laun aksi ini tepergok sipir.
Seiring waktu, Kartika (Mawar De Jongh) beranjak dewasa lalu jadi pengacara. Ia berupaya membersihkan nama Dodo yang mengidap mental illness dan kadung dicap pembunuh sekaligus pemerkosa anak.
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
2 Kekhawatiran Tak Terbukti
Kekhawatiran kami terhadap film ini ada dua. Pertama, Miracle In Cell No. 7 terjebak menjadi melodrama yang berlarut. Kedua, segmen-segmen komedi kurang menyatu dengan pilar drama. Alhamdulillah, dua kekhawatiran ini tak terbukti.
Hanung Bramantyo meletakkan fondasi drama berbasis akting prima Vino G Bastian, yang sejak awal pemunculannya mengundang simpati. Gestur seperti gerakan tangan hingga tatapan mata dan cara berjalannya 100 persen meyakinkan.
Kejutan lain datang dari Graciella Abigail yang mengimbangi akting Vino. Tanpa jarak dengan aksi reaksi natural. Inilah modal kuat yang sulit ditandingi. Tanpa dipaksa, penonton ikut memiliki dan kepikiran nasib dua karakter ini.