Musuh Besar Pemain dan Fans Piala Dunia Bernama Vuvuzela, Dilarang di Qatar 2022

Muncul sejak Piala Dunia 2010 dan langsung menganggu!

oleh Anry DhanniaryDiterbitkan 12 Agustus 2022, 15:00 WIB
Suporter Afrika Selatan meniup vuvuzela di Piala Dunia 2010.

Liputan6.com, Jakarta Piala Dunia selalu melahirkan hal-hal unik dari tempat penyelenggaraannya. Contohnya Piala Dunia Qatar yang akan mencatatkan diri sebagai Piala Dunia pertama yang akan digelar di kawasan jazirah Arab.

Selain itu, Piala Dunia 2022 juga sangat unik karena waktu pagelaran diubah tidak pada musim panas melainkan pada akhir tahun atau musim dingin, untuk menyiasati tingginya temperatur udara di Qatar.

Tetapi kali ini, Liputan 6 akan membahas soal hal unik yang muncul ketika Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar di benua Afrika tepatnya pada Piala Dunia Afrika Selatan tahun 2010 lalu.

Ketika itu, muncul sebuah alat tiup yang kehadirannya mengusik seluruh elemen sepakbola dunia yaitu vuvuzela, yang jadi ciri khas Afrika Selatan selama jadi tuan rumah Piala Dunia.

Suara yang dikeluarkan adalah dengungan monoton yang sepertinya tidak akan pernah berhenti.

Menjadi Piala Dunia pertama di tanah Afrika, vuvuzela menjadi simbol kebahagiaan warga lokal ketika menikmati 90 menit pertandingan yang mempertemukan negara-negara sepakbola terkuat.

Di tribun stadion, penonton meniup vuvuzela dengan semangat dan antusias. Seakan tidak peduli dengan orang-orang yang berharap suara itu untuk segera berhenti.

Apapun pandangan Anda soal terompet panjang yang terbuat dari plastik ini, kebanyakan penonton Piala Dunia 2010 pasti mengakui kalau lama-lama mereka muak mendengar suara ini.


Bisingnya Bisa Rusak Gendang Telinga

Sejumlah suprter Timnas Afrika Selatan dan vuvuzelanya di sela-sela laga persahabatan melawan Timnas Thailand yang digelar di Mbombela Stadium, Nelspruit, 16 Mei 2010. Afsel unggul 4-0. AFP PHOTO / STEPHANE DE SAKUTIN

Menurut Wikipedia, vuvuzela pertama kali "digunakan sebagai alat untuk memanggil warga yang tinggal jauh di luar kampung ketika harus menghadiri pertemuan". Dengan adanya kata "jauh" artinya suara yang dikeluarkan sangat keras.

Bayangkan kalau Anda penonton di stadion yang diapit oleh dua orang yang meniup vuvuzela dengan sangat semangat sepanjang pertandingan. Bisa-bisa gendang telinga Anda pecah.

Kata-kata di atas sudah pasti terlalu berlebihan. Tetapi hasil penelitian mengamini pernyataan tersebut.

Menurut para peneliti dari Pretoria University, rata-rata paparan suara selama Piala Dunia adalah 100.5 desibel, dan yang tertinggi mencapai 144,2 desibel. Angka tersebut dinilai sangat tinggi.

"Sebagai warga Afrika Selatan, saya menilai suara vuvuzela tidak baik untuk telinga ketika ada yang meniupnya dari jarak dekat," ujar Dr Dirk Koekemoer, salah satu peneliti dalam studi di atas.

Lanjut Baca:

"Yang mengejutkan saya, faktanya vuvuzela menghasilkan suara empat kali lebih besar dari perkiraan. Bukti memperlihatkan suara yang dihasilkan begitu keras. Jika terus menerus sepanjang pertandingan, telinga bisa mengalami kerusakan meski menggunakan pelindung," lanjutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya