Liputan6.com, Banyuwangi: Habibullah, seorang warga di sekitar Perkebunan Kalikempit dan Kaliredjo, Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, setiap hari selalu menyusuri jalan setapak yang melintasi perkebunan cokelat itu. Namun, awal Februari silam, Habibullah menemukan pemandangan aneh. Sesosok mayat remaja putri terlihat terikat di pohon cokelat dengan luka menganga di bagian perut.
Menyaksikan kejadian yang baru pertama kali dilihat sejak lahir, Habibullah sempat tak percaya bahkan tanpa sadar mengucek-ngucek matanya. Merasa tidak sedang bermimpi, Habibullah kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke pengelola perkebunan.
Penemuan mayat itu akhirnya bak estafet, menyebar dari mulut ke mulut. Warga Kalikampit dan Kaliredjo pun gempar. Kegemparan itu pula yang akhirnya mengundang polisi segera mengusut kasus tersebut.
Belakangan, menurut Kepala Satuan Reserse Polres Banyuwangi Ajun Komisaris Polisi Imam Sunarno, mayat perempuan muda berjilbab itu diketahui bernama Juhriati (18), warga Afdeling Muktironggo, Desa Karanghardjo, Glenmore. Juhriati tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Majlisus Sa`adah Glenmore.
Tak lama berselang, polisi kemudian dapat meringkus Mohammad Arifin (27), tetangga dekat korban. Beberapa jam sebelum terjadi pembunuhan, dia diketahui menjemput Juhriati dari pondok pesantren. Arifin ditangkap saat tengah tidur di rumahnya. Pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan itu ternyata bukan sekadar mengaku telah membunuh tetapi juga memperkosa dan menggantung mayat korban.
Arifin mengakui perempuan yang dibunuh itu sebenarnya adalah gadis idamannya. Namun tersangka kecewa, lantaran Juhriati selalu menolak cintanya. Padahal, keinginan untuk mempersunting gadis tetangganya itu sudah diutarakan sejak lama. Kekecewaan tersangka akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan terus memuncak hingga akhirnya nekat untuk menghabisi nyawa sang idaman.
Kematian Juhriati yang tewas secara mengenaskan menimbulkan duka mendalam bagi keluarganya. Apalagi setelah mengetahui yang menghabisi putri ketiganya itu adalah tetangga sendiri. Solehuddin, ayah korban, berkisah, sehari sebelum tragedi mengenaskan terjadi ia memang meminta Arifin mengantarkan buah pisang dan uang iuran bulanan Juhriati ke pondok pesantren. "Saya menitipkan uang kepadanya sebesar Rp 30 ribu," kata Solehuddin.
Solehuddin sungguh tak menyangka jika kemudian Arifin, orang yang diberi kepercayaan itu, justru memperkosa dan membunuh anaknya. Solehuddin berharap, tersangka yang membunuh anak perempuan satu-satunya itu dihukum seberat-beratnya.
Pembunuhan yang dilakukan Arifin juga membuat sedih Niyu, ayah tersangka. Apalagi selama ini sebagai tetangga hubungan dengan orang tua korban sangat akrab. Karena itu, ia tak keberatan jika anak sulungnya itu dihukum seberat-beratnya. "Tak apa dia dihukum karena dia punya kesalahan. Saya tidak bisa membela orang yang salah. Apalagi kesalahannya dibuat sendiri," kata Niyu.
Suasana duka atas tewasnya Juhriati juga dirasakan warga Pesantren Majlisus Sa`adah Glenmore. Kiai Haji Luthfi, pimpinan pondok pesantren setingkat sekolah lanjutan atas menyesalkan pembunuhan yang menimpa anak didiknya. Izin yang diberikan kepada Juhriati untuk meninggalkan pondok, menurut Luthfi, karena yang menjemput korban adalah sosok yang menjadi kepercayaan orang tuanya.
Tak hanya pimpinan pondok pesantren yang merasa kehilangan, teman-teman korban pun mengalami perasaan yang sama. Nurhalimah, misalnya, mengaku sedih atas kepergian teman yang dinilai baik dan cerdas itu. "Kasihan banget. Apalagi dia diperkosa. Dia anak yang baik dan cerdas," tutur Nurhalimah, sedih. Kini Nurhalimah dan rekan-rekan lainnya hanya dapat mendoakan dan melantunkan surat Yasin untuk menghantar kepergian Juhriati.(YYT/Tim Derap Hukum SCTV)
Menyaksikan kejadian yang baru pertama kali dilihat sejak lahir, Habibullah sempat tak percaya bahkan tanpa sadar mengucek-ngucek matanya. Merasa tidak sedang bermimpi, Habibullah kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke pengelola perkebunan.
Penemuan mayat itu akhirnya bak estafet, menyebar dari mulut ke mulut. Warga Kalikampit dan Kaliredjo pun gempar. Kegemparan itu pula yang akhirnya mengundang polisi segera mengusut kasus tersebut.
Belakangan, menurut Kepala Satuan Reserse Polres Banyuwangi Ajun Komisaris Polisi Imam Sunarno, mayat perempuan muda berjilbab itu diketahui bernama Juhriati (18), warga Afdeling Muktironggo, Desa Karanghardjo, Glenmore. Juhriati tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Majlisus Sa`adah Glenmore.
Tak lama berselang, polisi kemudian dapat meringkus Mohammad Arifin (27), tetangga dekat korban. Beberapa jam sebelum terjadi pembunuhan, dia diketahui menjemput Juhriati dari pondok pesantren. Arifin ditangkap saat tengah tidur di rumahnya. Pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan itu ternyata bukan sekadar mengaku telah membunuh tetapi juga memperkosa dan menggantung mayat korban.
Arifin mengakui perempuan yang dibunuh itu sebenarnya adalah gadis idamannya. Namun tersangka kecewa, lantaran Juhriati selalu menolak cintanya. Padahal, keinginan untuk mempersunting gadis tetangganya itu sudah diutarakan sejak lama. Kekecewaan tersangka akibat cinta yang bertepuk sebelah tangan terus memuncak hingga akhirnya nekat untuk menghabisi nyawa sang idaman.
Kematian Juhriati yang tewas secara mengenaskan menimbulkan duka mendalam bagi keluarganya. Apalagi setelah mengetahui yang menghabisi putri ketiganya itu adalah tetangga sendiri. Solehuddin, ayah korban, berkisah, sehari sebelum tragedi mengenaskan terjadi ia memang meminta Arifin mengantarkan buah pisang dan uang iuran bulanan Juhriati ke pondok pesantren. "Saya menitipkan uang kepadanya sebesar Rp 30 ribu," kata Solehuddin.
Solehuddin sungguh tak menyangka jika kemudian Arifin, orang yang diberi kepercayaan itu, justru memperkosa dan membunuh anaknya. Solehuddin berharap, tersangka yang membunuh anak perempuan satu-satunya itu dihukum seberat-beratnya.
Pembunuhan yang dilakukan Arifin juga membuat sedih Niyu, ayah tersangka. Apalagi selama ini sebagai tetangga hubungan dengan orang tua korban sangat akrab. Karena itu, ia tak keberatan jika anak sulungnya itu dihukum seberat-beratnya. "Tak apa dia dihukum karena dia punya kesalahan. Saya tidak bisa membela orang yang salah. Apalagi kesalahannya dibuat sendiri," kata Niyu.
Suasana duka atas tewasnya Juhriati juga dirasakan warga Pesantren Majlisus Sa`adah Glenmore. Kiai Haji Luthfi, pimpinan pondok pesantren setingkat sekolah lanjutan atas menyesalkan pembunuhan yang menimpa anak didiknya. Izin yang diberikan kepada Juhriati untuk meninggalkan pondok, menurut Luthfi, karena yang menjemput korban adalah sosok yang menjadi kepercayaan orang tuanya.
Tak hanya pimpinan pondok pesantren yang merasa kehilangan, teman-teman korban pun mengalami perasaan yang sama. Nurhalimah, misalnya, mengaku sedih atas kepergian teman yang dinilai baik dan cerdas itu. "Kasihan banget. Apalagi dia diperkosa. Dia anak yang baik dan cerdas," tutur Nurhalimah, sedih. Kini Nurhalimah dan rekan-rekan lainnya hanya dapat mendoakan dan melantunkan surat Yasin untuk menghantar kepergian Juhriati.(YYT/Tim Derap Hukum SCTV)