Lagi Lembaga Ekonomi Ramal Perang Rusia Ukraina Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Global

OECD memperingatkan bahwa konflik Rusia-Ukraina dapat memukul pertumbuhan ekonomi global.

oleh Natasha AmaniDiterbitkan 18 Maret 2022, 12:20 WIB
Sekelompok orang yang melarikan diri dari Ukraina tiba di perbatasan di Medyka, Polandia, Rabu, 16 Maret 2022. Invasi Rusia ke Ukraina memasuki hari ke-21. Berbagai upaya negosiasi menuju kompromi telah dilakukan demi menuju perdamaian di antara kedua belah pihak. (AP Photo/Petros Giannakouris)

Liputan6.com, Jakarta - Perang di Ukraina dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global lebih dari satu poin persentase pada tahun pertama setelah invasi Rusia.  Hal itu diungkapkan oleh Organization for Economic Development (OECD). 

Dilansir dari BBC, Jumat (18/3/2022) OECD juga menyebut perang di Ukraina dapat menyebabkan "resesi mendalam" di Rusia jika terus berlanjut.

Konflik tersebut juga dapat mendorong kenaikkan harga kebutuhan pokok secara global sekitar 2,5 persen.

Maka dari itu, OECD menyerukan dukungan keuangan yang ditargetkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, dengan harga kebutuhan pokok yang sebelumnya sudah naik karena meningkatnya permintaan saat pembatasan Covid-19 melonggar. 

Harga minyak, gas, logam dan bahan kimia penting untuk produksi pupuk, misalnya, telah melonjak karena kekhawatiran atas pasokan dari Rusia dan Ukraina.

Meskipun Rusia dan Ukraina hanya menanggung persentase kecil dari ekonomi global, kedua negara itu tetap menjadi produsen bahan mentah yang sangat besar.

OECD mengasumsikan dalam penelitian barunya bahwa harga minyak akan tetap naik sepertiga, gas naik 85 persen dan gandum 90 persen.

Eropa Bakal Melihat Dampak Ekonomi

Relawan Pasukan Pertahanan Teritorial Ukraina membantu seorang perempuan menyeberang jalan di Kharkiv, 16 Maret 2022. Invasi Rusia ke Ukraina memasuki hari ke-21. Berbagai upaya negosiasi menuju kompromi telah dilakukan demi menuju perdamaian di antara kedua belah pihak. (AP Photo/Andrew Marienko)

Di luar Rusia dan Ukraina, OECD menyebut dampak ekonomi dari konflik akan sangat terasa di Eropa.

Diketahui bahwa Eropa sangat bergantung pada pasokan energi serta makanan dari Rusia dan Ukraina.

Hal ini dikarenakan Ukraina yang pada biasanya mengimpor gandum ke Eropa.

Negara-negara "yang memiliki perbatasan bersama dengan Rusia atau Ukraina" akan merasakan dampak yang paling besar, sementara menanggung beban arus pengungsi dari Ukraina, kata OECD.

"Dukungan fiskal yang dirancang dengan baik dan ditargetkan dengan hati-hati dapat mengurangi dampak negatif pada pertumbuhan ekonomi dengan hanya sedikit dorongan ekstra terhadap inflasi," papar organisasi itu.

"Kebijakan moneter harus tetap fokus untuk memastikan ekspektasi inflasi yang berlabuh dengan baik," jelas OECD.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya