Liputan6.com, Jakarta Invasi militer Rusia terhadap Ukraina telah mencoreng nama pemilik Chelsea, Roman Abramovich. Taipan asal Negeri Beruang Merah itu bahkan dicap sebagai musibah terburuk bagi Liga Inggris.
Abramovich seperti diketahui ingin menjual Chelsea yang dibelinya pada tahun 2003 lalu. Langkah ini diambilnya menyusul ancaman sanksi pembekuan aset yang dilontarkan pemerinah Inggris sebagai buntut dari serangan yang dilakukan oleh tentara Rusia terhadap tetangganya, Ukraina belakangan ini.
Advertisement
Abramovich sebenarnya telah memantah memiliki hubungan erat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin yang memerintahkan perang terhadap Ukraina. Meski demikian, pria berusia 55 tahun tersebut juga khawatir bakal kehilangan aset berharga yang telah dimilikinya sejak tahun 2003 tersebut.
Sebelumnya, Abramovich telah melepas pengelolaan Chelsea ke orang kepercayaannya. Selanjutnya dia tengah menunggu calon pembeli yang bersedia mengambil alih tim yang dijuluki The Blues itu.
Sejumlah media di Inggris menyebut, Abramovich berniat menjual Chelsea seharga 3 Miliar Poundsterling dan sudah ada 10 calon pembeli yang berniat mengambil alih tim asal London itu. Hanya saja, Abramovich mengajukan dua syarat bagi pemilik baru, yakni pemilik barus tetap mendanai skuad The Blues, serta melanjutkan pembangunan kembali rumah mereka di Stamford Bridge.
Bawa Pengaruh Buruk
Mantan manajer Crystal Palace, Simon Jordan menyambut baik rencana penjualan Chelsea. Sebab, menunrutnya, kehadiran Abramovich telah menghadirkan bencana bagi sepak bola Inggris.
"Minggu lalu orang-orang mengaitkan evolusi Liga Premier, dengan Roman Abramovich,” katanya dalam salah satu acara radio seperti dilansir dari talkSPORT belum lama ini.
"Dengan segala hormat, dengan pengecualian Chelsea, Roman Abramovich adalah salah satu hal terburuk yang bisa terjadi pada sepak bola Inggris," ujar Simon menambahkan.
Abramovich seperti diketahui membeli Chelsea pada tahun 2003 lalu dengan harga 140 juta poundsterling. Lewat suntikan dana yang melimpah, Abramovich mampu mendongkrak perstasi tim dan menjadikan The Blues meraih kesukesan terbesar sepanjang sejarah perjalanan klub.
Namun bagi Jordan yang pernah menjadi pimpinan Crystal Palace pada 2000 hingga 2010 tidak sejalan dengan pendekatan Abramovich. Menurutnya, kekuatan uang yang menjadi pijakan bagi perjalanan The Blues selama ini telah merusak tatanan sepak bola Inggris secara keseluruhan.