Bahaya, Emisi Karbon Naik Seiring Pemulihan Ekonomi

Selama proses pemulihan ekonomi menghasilkan konsekuensi kenaikan jumlah emisi karbon. Bahkan di 2021, emisi karbon yang dihasilkan sudah melebihi 2019.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 22 Februari 2022, 14:20 WIB
Pegiat bersepeda dan aktivis pecinta lingkungan jelang aksi gowes Kelap Kelip Jakarta Night Ride #NOP26, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (26/11/2021). Aksi ini mendorong pemimpin dunia berkomitmen meningkatkan tingkat bersepeda untuk mengurangi emisi karbon. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Risiko perubahan iklim menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh seluruh dunia di samping pandemi Covid-19. berbagai bencana terkait perubahan iklim diakibatkan oleh emisi karbon yang berlebihan.

Menteri Keungan Sri Mulyani Indrawati bercerita, emisi karbon di dunia mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19. Penutupan berbagai aktivitas untuk mencegah penyebaran virus Corona membuat emisi karbon turun di 2020.

Tercatat, pada 2020 penurunan emisi karbon dunia mencapai 6,4 persen atau setara 2,3 miliar ton karbondioksida (C02).

"Saat pandemi aktivitas masyarakan dunia mengalami penurunan sebesar 6,4 persen pada tahun 2020," kata Sri Mulyani dalam Webinar Green Economy Outlook 2022: Peluang dan Tantangan Indonesia dalam Menciptakan Pertumbuhan Ekonomi Hijau, Jakarta, Selasa (22/2/2022).

Memasuki tahun 2021, setelah vaksin ditemukan dan setiap negara mulai bisa menangani kasusnya, perekonomian kembali bergerak. Memasuki tren pemulihan ini produksi emisi karbon kembali meningkat. Berdasarkan data UNEF, saat dunia mengalami pemulihan, emisi karbon meningkat lebih tinggi dari sebelum terjadi pandemi.

"Kita melihat tingkat emisi global terutama dari sektor energi, indutri dan residensi kembali melonjak pada level yang lebih tinggi bahkan melebihi situasi sebelum pandemi," ungkap Sri Mulyani.

Artinya, lanjut dia, selama proses pemulihan ekonomi menghasilkan konsekuensi kenaikan jumlah emisi karbon. Bahkan di 2021, emisi karbon yang dihasilkan sudah melebihi 2019.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Buah Simalakama

Pegiat bersepeda dan aktivis pecinta lingkungan saat aksi gowes Kelap Kelip Jakarta Night Ride #NOP26 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (26/11/2021). Aksi ini mendorong pemimpin dunia berkomitmen meningkatkan tingkat bersepeda untuk mengurangi emisi karbon. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Layaknya buah simalakama, pandemi membuat emisi karon dunia menurun. Tetapi di sisi lain penurunan emisi karbon tersebut membuat kondisi sosial ekonmi masyarakan jadi terganggu.

Hal ini seperti pilihan yang harus diambil, menyelamnatkan dunia dari perubahan iklim atau menyelamatkan kehidupan dan juga kondisi kesejahteraan masyarakat.

"Ini bukan kejadian yang masyarakat inginkan," kata dia.

Sebaliknya yang diinginkan dunia adalah masyarakat bisa melakukan kegiatan ekonomi sekaligus menerkan emisi karbon. Hal ini menjadi sangat pentig bagi negara berkembang dan negara tujuan pasar untuk menghindari konsekuensi perubahan iklim dunia.

Maka, yang menjadi tantangan saat ini harus ada desain pemulihan ekonomi yang lebih hijau atau rendah karbon. Sehingga seluruh dunia tidak hanya sedang mendesain kebijakan adaptasi menuju endemi tetapi juga mencoba mendesain kebijaka pemulihan ekonomi yang lebih hijau.

"Dunia saat ini membuat strategi pembangunan dengan memperhatikan konsekuasi emisi CO2 yang lebih rendah, sehingga masyarakat dan bumi bisa diselamatkan," kata dia.

 

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya