Andai Jyoti Sing Pandey Masih Hidup

Jyoti Singh Pandey, korban perkosaan di India mempunyai segudang mimpi. Meski dari keluarga yang kurang mampu, Joyti berambisi menjadi seorang dokter.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 Januari 2013, 14:51 WIB
Jyoti Singh Pandey (23) korban perkosaan di India mempunyai segudang mimpi. Meski dari keluarga yang kurang mampu, Joyti berambisi menjadi seorang dokter. Jika masih hidup salah satu cita-citanya adalah ingin punya klinik di daerah miskin tempat tinggalnya.

"Ketika ia dilahirkan, bibi saya dan paman selalu mengajaknya berkeliling, itu benar-benar mengajari hari yang indah. Itulah awal ambisinya menjadi dokter".

Joyti juga ingin mengubah kehidupan keluargannya lepas dari kemiskinan. Selain itu, ia ingin memastikan ayahnya tak bekerja keras di masa tuanya.

"Tujuan utamanya agar keluarga kami tidak menderita lagi. Dia ingin menghapuskan kemiskinan kami," kata ayah Jyoti, Badri Sing Pandey (53 tahun) seperti dikutip Mirror, Jumat (11/1/2013).

Saat mahasiswi fisioterapi itu berjuang hidup, Badri menaruh harapan besar agar putrinya bisa bertahan. Setiap perkembangan, menambah harapan anaknya bisa tetap hidup.

"Ketika kami pergi ke Singapura, dia tidak sadar tapi meneteskan air matanya. Kemudian saya menyadari keaadannya benar-benar buruk".

"Saya tidak bisa berpikir apa yang harus dilakukan pada waktu itu, saya seperti burung tanpa sayap".

Ketika Badri berpikir putrinya itu sudah lebih baik, ia pun mempunyai harapan lagi. Tapi ketika ia diberitahu putrinya harus menjalani operasi, Badri merasa hancur.

"Itu sulit bagi saya, tapi ketika dia mengenakan ventilator, itu memberi saya beberapa harapan bahwa ia akan lebih baik. Saya pikir dia mungkin menjadi lebih baik dan dia akan hidup."

Namun harapan tinggal harapan. Jyoti akhirnya menutup mata untuk selama-lamanya setelah 13 hari dirawat. Saat itu, Badri dan anggota keluarga lainnya hancur. Badri tak dapat mambayangkan bagaimana keluarganya akan bertahan hidup tanpa dirinya.

Meski berat, Badri ingin keluarganya bisa bertahan hidup demi Jyoti.

"Saya akan memenuhi mimpinya dan memastikan anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang baik dan berdiri di atas kaki sendiri dan melakukannya dengan baik. Mereka harus memenuhi mimpinya sekarang".

Badri mengaku kalau ia kesulitan mengingat semua kenangan Jyoti sejak kematiannya. Ia hanya ingat beberapa menit sebelum Jyoti mengalami serangan jantung.

"Percakapan itu akan tetap tergores di hati saya".

"Dia adalah seorang gadis pemberani dan jika kita berhenti hidup, dia akan sangat kecewa dengan kami".

Badri berharap nama anaknya itu dijadikan nama rumah sakit untuk memberikan kenangan positif.

"Putri saya ingin menjadi dokter dan membantu orang sehingga hal terbaik membangun sebuah rumah sakit dengan namanya. Saya akan sangat bangga dengan itu".

Ketika Badri pertama kali pindah ke Delhi pada tahun 1983, ia hanya berpenghasilan 150 Rupees per bulan, setara dengan 1,70 Poundsterling per harinya.

Tapi, ia menjual beberapa tanahnya untuk membayar pendidikan putrinya dan menabung sebanyak-banyaknya dari penghasilannya yang sekarang 65 Poundsterling per bulan.

"Sulit tinggal di Delhi dengan upah yang saya terima, sangat sulit. Tapi Jyoti selalu mengatakan, dia akan mengubah semuanya. Dia ingin mengubah kehidupan kami setelah mendapat pekerjaan".

Jyoti baru saja selesai kuliah 4 tahun di fisioterapi di kampus di luar Delhi. Saat diserang, Joyti sedang magang.(MEL/IGW)

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya