Jejak Ali Imron di Pulau Tanjung Berukang

Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Pulau Tanjung Berukang, Kaltim, tempat Ali Imron Cs diringkus sangat terpencil. Dengan speedboat dari Pelabuhan Samarinda, waktu tempuhnya sekitar dua jam.

oleh Liputan6Diterbitkan 18 Januari 2003, 20:25 WIB
Liputan6.com, Tanjung Berukang: Tak mudah memang meringkus Ali Imron Cs. Kelompok ini gesit dan licin bagai belut. Diperlukan banyak energi dan kesabaran untuk memburu gerombolan pengebom Legian, Bali, ini. Tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti sesekali jatuh juga. Pameo ini tepat untuk menggambarkan pelarian mereka. Senin (13/1) petang, Imron, Mubarok alias Hutomo Pamungkas, dan Imam Susanto ditangkap.

Selama dalam pelarian, ketiga anggota kelompok &quotberat&quot ini ternyata ngumpet di sebuah rumah berukuran 5X7 meter persegi di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana, Pulau Tanjung Berukang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Lokasi yang merupakan bagian dari pulau-pulau kecil di kawasan Delta Mahakam itu memang memungkinkan. Sebab, letaknya terpencil di ujung Kaltim atau berhadapan dengan Selat Makassar, dan sekelilingnya juga dipenuhi rawa-rawa . Untuk mencapai pulau tersebut dapat menggunakan speedboat dari Pelabuhan Samarinda, Kaltim. Bila kondisi pasang cukup tinggi, perahu motor tempel dapat dengan mudah menyusuri hulu Sungai Mahakam dan memakan waktu tempuh sekitar dua jam. Namun, jika air surut, perjalanan harus dilanjutkan dengan sampan kecil yang oleh masyarakat setempat disebut ketingting. Sepanjang perjalanan menuju lokasi nampak beberapa rumah panggung yang dibangun di tepian Sungai Mahakam.

Awalnya memang cukup sulit untuk membedakan tempat persembunyian Ali Imron dan kawan-kawannya dengan kediaman penduduk karena semua bentuk bangunan nyaris sama. Apalagi, rumah-rumah panggung tersebut berupa bangunan semipermanen yang biasa digunakan para petambak sebagai tempat tinggal. Di sepanjang tepian Sungai Mahakam memang banyak digunakan sebagai areal tambak. Makanya tak mudah menemukan rumah panggung tempat Ali Imron dan bersembunyi. Karena tak terletak di tepian sungai, melainkan harus melalui jalan yang berkelok-kelok. Menurut keterangan sejumlah penduduk setempat, bila tak mengenal baik alur Sungai Mahakam, sebaiknya jangan mencoba berbelok-belok karena sangat mungkin tersesat.

Tetapi kendala tersebut tak menyurutkan langkah polisi untuk meringkus ketiganya. Setelah bersusah-payah, Tim Investigasi Kasus Bom Bali akhirnya mencurigai sebuah rumah panggung yang terbuat dari daun nipah. Usut punya usut, ternyata bangunan itu milik Muhajir, warga Kampung Berukang yang berjarak tempuh satu jam dari lokasi Ali Imron bersembunyi. Muhajir memang pemilik tambak di sekitar rumah panggung tersebut dibangun. Dengan berbekal informasi tersebut, polisi segera meluncur ke lokasi. Tepat pukul 16.30 WITA, Tim Investigasi tiba di rumah panggung yang diduga kuat persembunyian Ali Imron Cs dengan menggunakan ketingting. Beberapa saat sebelumnya, speedboat yang ditumpangi polisi kandas dan tak dapat mendekati gubuk milik Muhajir.

Sebuah ketinting yang menepi dan memuat banyak orang jelas menimbulkan kecurigaan Imam Susanto yang tengah berada di luar rumah panggung itu. Pria yang diperkirakan sengaja ditugasi Ali untuk memantau keadaan segera menghunus parang. Ancaman tersebut jelas tak diindahkan Tim Investigasi yang berbekal senjata api. Tanpa perlawanan berarti, polisi melumpuhkan lelaki itu yang telah bersembunyi di sana selama dua pekan. Polisi kemudian merangsek masuk ke rumah panggung. Ternyata mereka mendapati Ali Imron dan Mubarak tengah tertidur sehingga dengan mudah dibekuk [baca: Ali Imron Ditangkap]. Polisi juga menemukan beberapa jenis bahan makanan berupa dua kotak mie instan, dua karung beras, dua jeriken minyak tanah, dan sebakul nasi. Melihat keadaan di dalam rumah, polisi menduga mereka baru selesai sarapan.

Tak ada perlawanan berarti memang. Tetapi, Ali sempat mengelak dengan mengaku sebagai Toha. Polisi tak peduli. Ketiganya tetap digelandang ke sebuah pengeboran minyak lepas pantai milik PT Total Indonesia--sekitar 30 menit dengan speedboat dari lokasi penangkapan. Setelah bermalam sehari, mereka dibawa ke Balikpapan dengan helikopter. Setelah melalui proses interogasi guna pengembangan kasus, Kamis malam silam, ketiganya bersama dengan 12 tersangka lainnya dievakuasi ke Bali. Muhajir juga turut dievakuasi Tim Investigasi, terutama berkaitan dengan perannya yang membantu pelarian Ali Imron. Kini, Ali sudah berada di Denpasar, Bali, untuk diinterogasi [baca: Ali Imron Diperiksa soal Rumah Kontrakan].

Desa Sepatin adalah desa nelayan yang sebagian besar warganya memang hidup dari mencari ikan atau membuat tambak udang, ikan dan kepiting. Desa yang terletak di tepian Sungai Mahakam ini dibangun pada awal 1970-an, saat nelayan dari Sulawesi Selatan mulai menetap di sana. Meski terpencil, wilayah ini berpenghuni--ralat berita sebelumnya yang menyatakan tak berpenghuni--ribuan kepala keluarga. Berdasarkan catatan Kantor Desa Sepatin yang sudah lama saja, penduduk desa ini sekitar 1.600 KK. Namun sejalan waktu, diperkirakan jumlah itu sudah bertambah menjadi sekitar 2.500 KK.

Menurut Kades Desa Sepatin Thamrin--yang mengaku datang dari Sulawesi ke daerah itu pada 1974--desa tersebut terbagi atas empat RT, masing-masing Tanjung Berukang (RT II), Perangat (RT III), Sungai Banjar (RT IV), dan Sepatin (RT I). Desa ini selain dianugerahi potensi perikanan tambak dan laut, juga menyimpan minyak dan gas bumi paling potensial di Indonesia. Lihat saja, di sana terdapat rig Perusahaan Minyak Unocal dan Total Indonesia. Bagi Pemerintah Daerah Kutai Kartanegara, kawasan ini sangat menguntungkan karena menyumbang sekitar 60 persen pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah periode 2003 yakni hampir Rp 2 triliun. Tak heran jika penduduk setempat cukup makmur dan tak tertinggal dalam informasi. Rata-rata warga daerah pesisir Kaltim ini memiliki antena parabola.(MTA/ANS/Aprilia Melissa dan Gatot Sulistiyobudi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya