Liputan6.com, Jakarta: Kendati amat jarang, teater tari tradisional Bali ternyata masih mendapat tempat di hati para penonton. Hal itu dapat dilihat pada pagelaran Arja, teater tari tradisional yang memadukan unsur tari, teater dan vokal di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (9/9).
Menurut berbagai catatan sejarah, teater tari tradisional Bali ini muncul pertama kalinya sekitar tahun 1825. Yakni, pada zaman pemerintahan Dewa Agung Sakti, Raja pertama di Klungkung, Bali. Pementasan Arja kemudian menyebar dan menjadi populer di kawasan pedesaan Bali sejak tahun 1904.
Pementasan anyar Arja di GKJ, mengetengahkan kisah Bandasura. Yakni kisah tentang pemberontakan seorang patih terhadap bangsa dan rajanya. Pemberontakan sang Patih Bandasura itu digambarkan dengan memikat. Cerita terasa hidup dalam pagelaran yang menggabungkan seni tari dan vokal itu. Kisah pemberontakan itu diakhiri oleh kekalahan Bandasura.
Para pemain Arja terdiri dari pelajar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, serta seniman dari Desa Singapadu dan Kramas Gianyar, Bali. Mereka ternyata masih bisa menampilkan aksi panggung yang memikat serta warna vokal yang jernih. Karena itulah, penonton yang memadati GKJ tampak tak merasa bosan walaupun pertunjukkan itu berlangsung hampir dua jam.(HFS/Moro Sudihardjo dan Anambo Tono)
Menurut berbagai catatan sejarah, teater tari tradisional Bali ini muncul pertama kalinya sekitar tahun 1825. Yakni, pada zaman pemerintahan Dewa Agung Sakti, Raja pertama di Klungkung, Bali. Pementasan Arja kemudian menyebar dan menjadi populer di kawasan pedesaan Bali sejak tahun 1904.
Pementasan anyar Arja di GKJ, mengetengahkan kisah Bandasura. Yakni kisah tentang pemberontakan seorang patih terhadap bangsa dan rajanya. Pemberontakan sang Patih Bandasura itu digambarkan dengan memikat. Cerita terasa hidup dalam pagelaran yang menggabungkan seni tari dan vokal itu. Kisah pemberontakan itu diakhiri oleh kekalahan Bandasura.
Para pemain Arja terdiri dari pelajar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, serta seniman dari Desa Singapadu dan Kramas Gianyar, Bali. Mereka ternyata masih bisa menampilkan aksi panggung yang memikat serta warna vokal yang jernih. Karena itulah, penonton yang memadati GKJ tampak tak merasa bosan walaupun pertunjukkan itu berlangsung hampir dua jam.(HFS/Moro Sudihardjo dan Anambo Tono)