Pentas hiburan di Indonesia sangat dinamis. Saban hari, wajah-wajah baru bermunculan dan membuat warna industri hiburan semakin semarak. bagi pelaku seni kawakan, ini adalah tantangan untuk mempertahankan eksistens.
Yang tetap gemilang di layar kaca, adalah mereka yang fleksibel mengikuti pergeseran budaya. Namun ada pula yang surut dan terlupakan, terutama bagi pelaku budaya tradisional. Didik Nini Thowok misalnya.
Ia memang belum hilang dari jagad hiburan. Didi, dua kali membintangi produksi layar lebar, 'Jagad X Code' dan 'Preman In Love', kedua film itu dirilis pada 2009 lalu. Yang ironi, Didi tidak tampil dan menunjukkan keluwesan tubuhnya saat menari jawa. Di dua film itu, ia berdamai dengan permintaan komersil si produser dan menjadi tokoh figuran yang tingkahnya mengocok perut penonton.
Padahal, Didi adalah budayawan multitalenta. Ia merupakan penari, koreografer, komedian, pemain pantomim, penyanyi, sekaligus pengajar. Hampir seluruh tari-tarian di Indonesia ia hapal di luar kepala. Bahkan, di kancah dunia, nama Didi sudah dikenal. Ia berkali-kali diundang dalam forum rutin Asia Pacific Performing Arts Network (APPAN).
Belum lama ini, tim liputan6.com bertandang ke kediaman Mas Didi di kawasan Godean, Jogjakarta. Ia berbagi secuil perjalanan hidupnya. Di masa kecil, Didik menyimpan kegetiran. Didik Nini Thowok terlahir sebagai keturunan Tionghoa.
"Saya ini keturunan China, sama seperti yang lain saya juga mengalami diskriminasi," ucap Didik membuka obrolan.
Yang paling diingat ialah saat pemberontakan PKI di tahun 1965. "Waktu itu saya kelas 6 SD. Di sekolah, saya pernah dilempari batu, dipukuli dan diteriaki teman-teman. Sampai saya harus berganti nama," kenang dia.
Hingga tahun berganti dan beranjak dewasa, Didik sebisa mungkin menyembunyikan identitas aslinya. "Saya hanya berani mengaku keturuna Tionghoa kalau sedang mengurus surat-surat, itu pun sangat sulit. Saya takut, itu trauma yang kadang-kadang muncul sampai sekarang," ungkapnya.
Namun, dari menari lah yang menolong Didi dari rasa traumatik mendalam.
"Dulu, saya naik panggung saja tidak berani, apalagi menari depan orang banyak. Tapi, perlahan-lahan saya belajar untuk percaya diri. Lewat menari, sebenarnya saya mengekpresikan diri saya. Bahkan sekarang, saya tidak perlu lagi menutupi kalau saya keturunan Tionghoa atau tidak, orang mengenal saya sebagai Didi Ninik Thowok si penari jawa. itu membuat saya bahagia," tutupnya. (fei)
Yang tetap gemilang di layar kaca, adalah mereka yang fleksibel mengikuti pergeseran budaya. Namun ada pula yang surut dan terlupakan, terutama bagi pelaku budaya tradisional. Didik Nini Thowok misalnya.
Ia memang belum hilang dari jagad hiburan. Didi, dua kali membintangi produksi layar lebar, 'Jagad X Code' dan 'Preman In Love', kedua film itu dirilis pada 2009 lalu. Yang ironi, Didi tidak tampil dan menunjukkan keluwesan tubuhnya saat menari jawa. Di dua film itu, ia berdamai dengan permintaan komersil si produser dan menjadi tokoh figuran yang tingkahnya mengocok perut penonton.
Padahal, Didi adalah budayawan multitalenta. Ia merupakan penari, koreografer, komedian, pemain pantomim, penyanyi, sekaligus pengajar. Hampir seluruh tari-tarian di Indonesia ia hapal di luar kepala. Bahkan, di kancah dunia, nama Didi sudah dikenal. Ia berkali-kali diundang dalam forum rutin Asia Pacific Performing Arts Network (APPAN).
Belum lama ini, tim liputan6.com bertandang ke kediaman Mas Didi di kawasan Godean, Jogjakarta. Ia berbagi secuil perjalanan hidupnya. Di masa kecil, Didik menyimpan kegetiran. Didik Nini Thowok terlahir sebagai keturunan Tionghoa.
"Saya ini keturunan China, sama seperti yang lain saya juga mengalami diskriminasi," ucap Didik membuka obrolan.
Yang paling diingat ialah saat pemberontakan PKI di tahun 1965. "Waktu itu saya kelas 6 SD. Di sekolah, saya pernah dilempari batu, dipukuli dan diteriaki teman-teman. Sampai saya harus berganti nama," kenang dia.
Hingga tahun berganti dan beranjak dewasa, Didik sebisa mungkin menyembunyikan identitas aslinya. "Saya hanya berani mengaku keturuna Tionghoa kalau sedang mengurus surat-surat, itu pun sangat sulit. Saya takut, itu trauma yang kadang-kadang muncul sampai sekarang," ungkapnya.
Namun, dari menari lah yang menolong Didi dari rasa traumatik mendalam.
"Dulu, saya naik panggung saja tidak berani, apalagi menari depan orang banyak. Tapi, perlahan-lahan saya belajar untuk percaya diri. Lewat menari, sebenarnya saya mengekpresikan diri saya. Bahkan sekarang, saya tidak perlu lagi menutupi kalau saya keturunan Tionghoa atau tidak, orang mengenal saya sebagai Didi Ninik Thowok si penari jawa. itu membuat saya bahagia," tutupnya. (fei)