Jathilan Jalanan Kota Semarang

Saat ini kita mulai dapat melihat berbagai macam pengamen dengan cara yang berbagai macam untuk mendapatkan simpati dari pengguna jalan. Contohnya pengamen jathilan yang sering kita lihat menghiasi jalanan seperti di Kota Semarang.

oleh yeshaDiterbitkan 28 Desember 2012, 18:47 WIB
Citizen6, Semarang: Kota besar identik dengan banyaknya pusat keramaian dan pusat perbelajaan, pusat keramaian anak identik pula dengan pengamen atau pun pengemis. Pengamen pun sering ditemui di bangjo perempatan atau pun pertigaan. Saat ini kita mulai dapat melihat berbagai macam pengamen dengan cara yang berbagai macam untuk mendapatkan simpati dari pengguna jalan. Contohnya pengamen jathilan yang sering kita lihat menghiasi jalanan seperti di Kota Semarang.

"Banyak yang kayak kita, tapi mereka cuma ikut-ikutan dan sebagian besar enggak punya keahlian menari sama sekali," cetus Yayuk, salah satu seniman jathilan yang mengadu nasib bersama kelompoknya di Semarang. Kelompok yang berasal dari Kabupaten Temanggung ini sebenarnya adalah kelompok kesenian jathilan yang dasarnya adalah penari undangan untuk mengisi acara seperti pernikahan, khitan, ataupun acara lainnya. Namun karena mulai jarangnya tawaran, kelompok Yayuk pun akhirnya hijrah kejalanan Kota Yogjakarta pada 2008 lalu untuk menambah pemasukan.

Hal ini juga di sebabkan apabila mereka tammpil di Yogja sering sekali mendapat penertiban dari satpol PP atau pun polisi. Sehingga akhirnya kelompok ini pindah ke Semarang. Apabila ada penertiban oleh Satpol PP, barang-barang Yayuk dan kawan-kawan sering disita dan tidak dikembalikan. Pakaian mereka pun sering diambil dan pulang hanya mengenakan celana pendek saja. "Kalau disita nanti beli lagi, beli lagi disita lagi ya beli lagi," tambah Yayuk.

Rasa jera sebenarnya ada di benak mereka, namun kebutuhan ekonomi menjadikan rasa tersebut harus hilang. Mereka pun berharap kepada Bibit Waluyo, selaku Gubernur Jawa Tengah memberikan apresiasi kepada kebudayaan mereka dengan cara memberikan kebebasan kepada kelompok ini untuk mengenalkan kebudayaan kita kepada masyarakat sekaligus untuk dapat menghidupi mereka. "Toh kita disini juga enggak mengganggu pengguna jalan dan masyarakat juga terlihat antusias dengan adanya ngamen cara seperti ini," tambah Yayuk. (Yoga Dwi/YSH)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya