Konflik antara PSSI dan KPSI terus meruncing, dengan adanya rencana pengambilan secara paksa kantor pusat PSSI di Senayan kemarin oleh pihak KPSI. Belum lagi adanya dua kongres luar biasa yang diadakan di dua tempat Jakarta oleh pihak KPSI dan Palangkaraya oleh pihak PSSI.
Sejak kemarin hingga hari ini, penjagaan ketat terjadi di kantor PSSI di Gelora Bung Karno dikarenakan adanya ancaman dari pihak KPSI untuk mengambil alih kantor pusat PSSI tersebut. Penjagaan tersebut dilakukan oleh kepolisian dari Polsek Tanah Abang dan Brimob Polda Metro Jaya. Sementara itu, Ketua Umum PSSI Djohar Arifin melakukan tindakan penjagaan kantor PSSI tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya pihak luar yang akan mengganggu atau merusak PSSI.
Ini merupakan kali kedua KPSI mengancam akan mengambil alih kantor PSSI, tapi hal ini dibantah oleh Tigor Salom Boboy yang merupakan Sekjen sementara KPSI yang menyatakan pihaknya tidak akan melakukan cara anarkis dalam mengambil alih kantor PSSI melainkan meminta anggota komite eksekutif yang pernah dipecat dan sekarang duduk di KPSI untuk berkantor seperti biasa di kantor PSSI di Senayan.
Sementara itu, sesuai hasil Kongres di Palangkaraya, empat anggota komite eksekutif La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Erwin Budiawan dan Roeberto Rouw telah dikembalikan kembali pada jabatannya. Namun pihak dengan syarat mereka harus terlebih dahulu meminta maaf dan tidak berjanji tidak mengulangi.
Meruncingnya perseteruan antara PSSI dan KPSI telah membuat Indonesia berada di ambang sanksi FIFA, namun pemerintah dan PSSI masih akan berusaha menghindarkan Indonesia dari sanksi tersebut. Konflik sepakbola indonesia yang berkepanjangan telah mengorbankan prestasi sepakbola indonesia. Salaah satunya adalah saat pembentukan tim nasional misalnya tidak semua pemain terbaik bisa bergabung. Pasalnya, sejumlah pemain dilarang memperkuat timnas dikarenakan berasal dari klub-klub ISL yang bernaun di bawah KPSI. Hasilnya Indonesia tersingkir pada Piala AFF tahun ini, jika sanksi FIFA dijatuhkan maka Indonesia kan terkucil dari sepakbola internasional. (JEF)
Sejak kemarin hingga hari ini, penjagaan ketat terjadi di kantor PSSI di Gelora Bung Karno dikarenakan adanya ancaman dari pihak KPSI untuk mengambil alih kantor pusat PSSI tersebut. Penjagaan tersebut dilakukan oleh kepolisian dari Polsek Tanah Abang dan Brimob Polda Metro Jaya. Sementara itu, Ketua Umum PSSI Djohar Arifin melakukan tindakan penjagaan kantor PSSI tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya pihak luar yang akan mengganggu atau merusak PSSI.
Ini merupakan kali kedua KPSI mengancam akan mengambil alih kantor PSSI, tapi hal ini dibantah oleh Tigor Salom Boboy yang merupakan Sekjen sementara KPSI yang menyatakan pihaknya tidak akan melakukan cara anarkis dalam mengambil alih kantor PSSI melainkan meminta anggota komite eksekutif yang pernah dipecat dan sekarang duduk di KPSI untuk berkantor seperti biasa di kantor PSSI di Senayan.
Sementara itu, sesuai hasil Kongres di Palangkaraya, empat anggota komite eksekutif La Nyalla Mattalitti, Tony Apriliani, Erwin Budiawan dan Roeberto Rouw telah dikembalikan kembali pada jabatannya. Namun pihak dengan syarat mereka harus terlebih dahulu meminta maaf dan tidak berjanji tidak mengulangi.
Meruncingnya perseteruan antara PSSI dan KPSI telah membuat Indonesia berada di ambang sanksi FIFA, namun pemerintah dan PSSI masih akan berusaha menghindarkan Indonesia dari sanksi tersebut. Konflik sepakbola indonesia yang berkepanjangan telah mengorbankan prestasi sepakbola indonesia. Salaah satunya adalah saat pembentukan tim nasional misalnya tidak semua pemain terbaik bisa bergabung. Pasalnya, sejumlah pemain dilarang memperkuat timnas dikarenakan berasal dari klub-klub ISL yang bernaun di bawah KPSI. Hasilnya Indonesia tersingkir pada Piala AFF tahun ini, jika sanksi FIFA dijatuhkan maka Indonesia kan terkucil dari sepakbola internasional. (JEF)