Liputan6.com, Jakarta FIFA saat ini dilaporkan tengah menjajaki gagasan untuk menggandakan frekuensi pelaksanaan Piala Dunia menjadi dua tahun sekali. Akan tetapi, Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengaku khawatir akan dampak dari keputusan tersebut.
Melansir Goal.com, gagasan untuk menjadikan Piala Dunia sebagai kejuaraan dua tahun sekali sejatinya telah mendapat banyak perhatian sejak pertama kali diangkat dalam kongres FIFA pada Mei lalu.
Advertisement
Badan pengelola sepak bola internasional ini kabarnya sedang melakukan studi kelayakan atas rencananya. Akan tetapi, Ceferin kecewa akibat kurangnya konsultasi FIFA dengan UEFA. Padahal, pihaknya menilai langkah tersebut bakal memiliki dampak besar.
Ceferin pun mengungkapkan keprihatinannya ketika menanggapi surat dari Direktur Eksekutif Suporter Sepak Bola Eropa Ronan Evain. Ceferin menyatakan bahwa UEFA dan asosiasi nasionalnya merasa keberatan dan memiliki perhatian serius soal rencana FIFA.
“Mempertimbangkan dampak besar dari reformasi ini terhadap seluruh organisasi sepak bola, ada kebingungan bahwa FIFA tampaknya meluncurkan kampanye PR untuk mendorong proposalnya, sementara proposal itu belum diajukan ke konfederasi, asosiasi nasional, liga, klub, pemain, pelatih, dan semua komunitas sepak bola,” ujarnya melansir Goal.com.
Dampak pada Kalender Internasional
Adapun, salah satu dampak yang disoroti Ceferin dari penyelenggaraan Piala Dunia tiap dua tahun adalah perubahan pada kalender pertandingan internasional, yang dalam konteks ini utamanya akan dirasakan oleh sepak bola wanita.
“Surat Anda dan kekhawatiran yang muncul atas nama pendukung di seluruh Eropa mengenai rencana FIFA untuk menyelenggarakan Piala Dunia tiap dua tahun sangat valid dan penting,” ujar Ceferin.
“Biarkan saya meyakinkan bahwa UEFA mendukung Anda dan para penggemar dalam masalah penting ini. Kita harus bekerja sama untuk mempertahankan kepentingan permainan dan memperkuat posisi penggemar sebagai pemangku kepentingan,” sambungnya.
Alasan FIFA
Dikutip dari Goal.com, anggota FIFA setuju untuk melakukan studi kelayakan pada rencana penyelenggaraan Piala Dunia dua tahun sekali, setelah menerima proposal diajukan oleh Federasi Sepak Bola Arab Saudi.
Presiden FIFA Gianni Infantino nampaknya mendukung rencana dengan mengatakan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun bakal menggandakan pendapatan yang diperoleh.