Bayang-Bayang Seksisme di Sepak Bola Indonesia

Dunia sepak bola tak terlepas dari dunia suporter yang tidak melulu laki-laki. Namun, sudah banyak wanita yang menjadi suporter sepak bola.

oleh Dewi DiviantaDiperbarui 05 April 2021, 23:00 WIB
Sejumlah suporter wanita melukis pipinya dengan gambar bendera Merah Putih jelang semifinal SEA Games 2017 di Stadion Sham Alam Selangor, Malaysia, Sabtu (26/8). Timnas Indonesia U-22 bakal berlaga melawan Malaysia. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Denpasar Dunia sepak bola tidak bisa dilepaskan unsur pendukung atau suporter. Nah, beberapa tahun ini, keberadaan suporter tidak hanya didominasi kaum laki-laki tetapi juga perempuan. Bahkan "tribun stadion" dari waktu ke waktu makin terlihat nyaman untuk wanita bahkan anak-anak dan keluarga.

Namun, sayangnya kenyamanan menonton sepak bola untuk saat ini untuk sementara terpaksa dibatasi menyusul mewabahnya pandemi Covid-19. Salah satu contoh teranyar adalah penyelenggaraan Piala Menpora 2021. Dengan aturan dan protokol kesehatan yang ketat, turnamen tak bisa dihadiri penonton atau suporter. 

Terlepas dari itu, fenomena soal pendukung klub, akhir-akhir ini diwarnai dengan banyaknya oknum suporter khususnya wanita memanfaatkan dunia pertribunan untuk mendapatkan follower atau jadi selebgram. Mereka menjual keseksian yang justru mengembalikan dunia persuporteran ke zaman "jahiliyah' dimana wanita selalu digoda jika hadir ke tribun stadion.

Hal ini membuat beberapa pengamat persepak bolaan resah. Fajar Junaedi, dosen di salah satu universitas ternama di Indonesia dan juga penulis banyak buku tentang persepak bolaan Indonesia ini, mengatakan bahwa tantangan ke depan adalah menyadarkan bahwa tiada ruang bagi obyektifikasi perempuan sebagai obyek tatapan kepuasan seksual laki-laki di sepak bola.

Fajar menyebut, dalam buku yang berjudul Visual and OtherPleasure (1989) karya Laura Mulvey, disebutkan soal teori male gaze. Mulvey mengintroduksi teorinya dalam konteks perempuan dalam film. Pernyataan dari Mulvey adalah bahwa film memberikan beberapa kepuasan, salah satunya adalah kepuasan dalam pandangan atau disebut dengan "scopophilia".

Kepuasan dalam memandang dibagi menjadi dua, yaitu laki-laki sebagai pihak yang aktif dan perempuan sebagai pihak yang pasif. Perempuan yang pasif menjadi obyek seksual dari pandangan laki-laki heteroseksual yang melihatnya dan laki-laki tersebut memperoleh kenikmatan dari pandangan tersebut.

 

Simak Video Menarik Berikut Ini


Menjaga Eksistensi Positif Suporter Wanita

Dalam bukunya Laura Mulvey menyebut relasi fans sepak bola laki-laki dan perempuan yang masih dikungkungi ideologi maskulinitas dan patriarki.

"Fans perempuan menjadi obyek tatapan dari fans laki-laki, dengan direproduksi di media sosial. Tantangan ke depan adalah menyadarkan bahwa tiada ruang bagi obyektifikasi perempuan sebagai obyek tatapan kepuasan seksual laki-laki di sepak bola," ujar Fajar kepada Liputan6.com, Kamis (1/4/2021).

Lanjut Baca:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya