Liputan6.com, Jakarta: Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar membantah ledakan di Jalan Legian Kuta, Bali, 12 Oktober silam adalah ledakan mikro nuklir. Alasannya, tak pernah ditemukan bahan-bahan mikro nuklir di tempat kejadian perkara. Menurut Kapolri, hanya jenis C-4, yakni nitrat, trinitroluene (TNT) dan Cyclotrimethylenetrinitramine (RDX) yang ditemukan di TKP. Hal itu disampaikan Kapolri dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR, Kamis (31/10) malam.
Sebelumnya, Kepala Kepolisian Daerah Bali Brigadir Jenderal Polisi Budi Setiawan juga pernah memastikan, bom yang digunakan dalam Tragedi Bali itu adalah dari jenis Royal Demolition Explosive (RDX) [baca: RDX yang Berdaya Ledak Dahsyat]. Sebenarnya, RDX bukan barang baru yang hadir dalam sejumlah teror di dunia ini. Bahan peledak tersebut sudah digunakan sejak Perang Dunia II. Bom jenis itu jugalah yang menentukan kemenangan Sekutu atas Jerman.
Hingga sekarang, RDX masih sebagai senjata andalan di kalangan militer dan dikenal sebagai senjata paling mematikan di luar nuklir. Sayangnya, bahan peledak ini juga tersedia di luar kalangan militer. Secara komersial, RDX dipakai untuk bahan bakar pendorong roket dan eksplorasi minyak bumi.(AWD/Ajmal Rokian dan Doni Indradi)
Sebelumnya, Kepala Kepolisian Daerah Bali Brigadir Jenderal Polisi Budi Setiawan juga pernah memastikan, bom yang digunakan dalam Tragedi Bali itu adalah dari jenis Royal Demolition Explosive (RDX) [baca: RDX yang Berdaya Ledak Dahsyat]. Sebenarnya, RDX bukan barang baru yang hadir dalam sejumlah teror di dunia ini. Bahan peledak tersebut sudah digunakan sejak Perang Dunia II. Bom jenis itu jugalah yang menentukan kemenangan Sekutu atas Jerman.
Hingga sekarang, RDX masih sebagai senjata andalan di kalangan militer dan dikenal sebagai senjata paling mematikan di luar nuklir. Sayangnya, bahan peledak ini juga tersedia di luar kalangan militer. Secara komersial, RDX dipakai untuk bahan bakar pendorong roket dan eksplorasi minyak bumi.(AWD/Ajmal Rokian dan Doni Indradi)