Kemenkop UKM Ingin Usaha Mikro dan Kecil Menembus Pasar Global

Digitalisasi UMKM menjadi mutlak dilakukan, karena UMKM yang eksis dan mampu mempertahankan omset penjualannya

oleh Tira SantiaDiterbitkan 09 Oktober 2020, 11:31 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan kue kering di Jakarta, Rabu (30/9/2020). Kemenkop UKM menyatakan realisasi penyaluran bantuan presiden (Banpres) produktif untuk UMKM senilai 2,4 juta/UKM hingga 21 September 2020 mencapai 5.909.647 usaha mikro atau sekitar 64,50 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Koperasi dan UKM mendorong dan mengajak pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini di tengah pandemi Covid-19.

"Caranya, dengan meningkatkan pemasaran produk melalui online atau marketplace," kata Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM Arif Rahman Hakim, di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (9/10/2020).

Kata Arif, digitalisasi menjadi mutlak dilakukan, karena UMKM yang eksis dan mampu mempertahankan omset penjualannya adalah yang terhubung dengan ekosistem digital.

"Peserta pelatihan dibekali materi umum, antara lain motivasi kewirausahaan, penyusunan bisnis plan, perkoperasian, dan Digital Marketing," ujarnya.

Bahkan, ketika sudah menerapkan pemasaran online, tidak menutup kemungkinan pelaku UMK dapat menembus pasar global (ekspor). Oleh karena itu, UMK harus belajar bagaimana tata kelola melakukan ekspor.

Arif pun merujuk website edukukm.id dan Rumah BUMN sebagai sumber pembelajaran bagi UMK untuk meningkatkan kualitas SDM.

"Setelah pelatihan ini, saya berharap jaringan usaha bisa berkembang. Ingat, luasnya networking sangat penting dalam pengembangan UMK," ungkap dia.

 

Bantuan ke UMKM dalam bentuk KUR.

Dia meyakini, bila UMK selalu menambah ilmu dan pengetahuan melalui pelatihan-pelatihan, pasar dan kapasitas usaha akan meningkat. Maka dari itu, UMK harus bisa memanfaatkan potensi yang ada di wilayah.

Misalnya, untuk sektor peternakan sapi dan kambing, masih bisa berkembang hingga bisa memiliki industri olahan sendiri. Dari mulai industri olahan susu, hingga keju. Begitu juga dengan potensi pasar kopi yang masih bisa dikembangkan hingga ke mancanegara.

"Masyarakat Timur Tengah dan Eropa sangat menyukai rasa kopi asal Indonesia. Masalahnya di kita adalah menyangkut suplai kopi yang masih kalah dari suplai dari Brazil dan Vietnam," ujarnya.

Kendati begitu, bila UMK melakukan ekspor produk secara sendiri-sendiri, terbilang mahal ongkosnya. Kata Arif, selain ekspor produk melalui perusahaan Off-Taker, UMK juga bisa berkongsi dalam wadah koperasi. Saat ini, langkah kemitraan menjadi hal yang penting dalam mengembangkan UMK.

Di samping itu, KemenkopUKM juga sudah memiliki beberapa strategi untuk meningkatkan kapasitas usaha pelaku UMKM di Indonesia. Diantaranya, perluasan akses pasar dengan cara sinergi dengan Kementerian/Lembaga lain dalam menyerap produk UMK.

“Oleh karena itu, pelaku UMK harus rajin mengakses informasi bisnis yang ada di banyak kementerian dan lembaga. Produk UMK bisa masuk e-Katalog dan peluang ini harus bisa dimanfaatkan," pungkasnya.

Saksikan video di bawah ini:

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya