Liputan6.com, Jakarta: Hingar bingar musik serasa memecah telinga. Secara bersamaan cahaya lampu yang liar tak kalah menyilaukan mata. Tapi, tak ada yang peduli. Malah, para pengunjung di sana asyik bergoyang mengikuti irama musik. Itulah suasana Sari Club Legian Kuta, Bali, 7 Juli silam. Seorang wisatawan domestik sempat mengabadikan suasana itu lewat kamera jinjingnya. Dia tak mengira gambar yang diambil akan menjadi gambar monumental, sebelum klub malam khusus orang asing itu luluh lantak akibat ledakan bom, Sabtu pekan silam [baca: Ledakan Dahsyat Mengguncang Bali dan Manado].
Dalam sejarahnya, Sari Club memang menjadi tempat pertemuan turis asing. Bahkan di pintu masuk, terpampang larangan masuk khusus bagi wisatawan nusantara. Karena itulah, kameramen amatir ini merasa heran bisa leluasa masuk Sari Club. Lebih mengherankan lagi, dia bisa mengambil gambar sampai tiga kali berturut-turut setiap malam pada bulan itu. Gambar ini hanyalah sekadar memuaskan keingintahuannya: seperti apa sebenarnya klub yang sedang menjadi buah bibir? Kini, tak ada lagi itu. Tak ada musik, lampu dan goyangan warga asing. Yang ada hanya puing-puing.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)
Dalam sejarahnya, Sari Club memang menjadi tempat pertemuan turis asing. Bahkan di pintu masuk, terpampang larangan masuk khusus bagi wisatawan nusantara. Karena itulah, kameramen amatir ini merasa heran bisa leluasa masuk Sari Club. Lebih mengherankan lagi, dia bisa mengambil gambar sampai tiga kali berturut-turut setiap malam pada bulan itu. Gambar ini hanyalah sekadar memuaskan keingintahuannya: seperti apa sebenarnya klub yang sedang menjadi buah bibir? Kini, tak ada lagi itu. Tak ada musik, lampu dan goyangan warga asing. Yang ada hanya puing-puing.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)