Liputan6.com, Jakarta: Upaya pemerintah untuk membersihkan kawasan di tepian sungai dari gubuk-gubuk liar, agaknya, tak pernah berhasil. Kendati aparat Ketentraman dan Keteriban DKI Jakarta sering menggelar operasi pembersihan, mereka yang tinggal di sana kembali lagi setelah petugas pergi. Itukah yang terjadi hingga kini.
Padahal, berubahnya pinggiran sungai menjadi pemukiman liar, selain mengancam keselamatan masyarakat lantaran banjir, juga mengganggu keindahan kota. Potret kehidupan di pinggiran sungai Ciliwung adalah masyarat yang berada di bawah Jembatan Tinggi, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sekitar 15 kepala keluarga mengaku telah menetap di wilayah ini sejak tahun 70-an. Selama itu, ancaman terhadap datangnya banjir tak lagi menjadi masalah yang menakutkan.
Hidup di bawah jembatan memang perjalanan hidup yang memprihatinkan. Tapi, hal ini terpaksa mereka lakukan agar mampu bertahan hidup di Ibu Kota yang memang tak ramah.(RSB/Iinsan Kamil dan Dwi Nindyas)
Padahal, berubahnya pinggiran sungai menjadi pemukiman liar, selain mengancam keselamatan masyarakat lantaran banjir, juga mengganggu keindahan kota. Potret kehidupan di pinggiran sungai Ciliwung adalah masyarat yang berada di bawah Jembatan Tinggi, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sekitar 15 kepala keluarga mengaku telah menetap di wilayah ini sejak tahun 70-an. Selama itu, ancaman terhadap datangnya banjir tak lagi menjadi masalah yang menakutkan.
Hidup di bawah jembatan memang perjalanan hidup yang memprihatinkan. Tapi, hal ini terpaksa mereka lakukan agar mampu bertahan hidup di Ibu Kota yang memang tak ramah.(RSB/Iinsan Kamil dan Dwi Nindyas)