Liputan6.com, Tasikmalaya: Geliat pertumbuhan industri kerajinan umumnya bergantung pada pasar ekspor seperti halnya kerajinan mendong asal Tasikmalaya, Jawa Barat.
Indra Pandhulaksana, Kepala Produksi CV Mendong K Craft mengatakan 70 persen hasil produknya diekspor ke mancanegara. Sisanya memenuhi kebutuhan pasar lokal.
"Kondisi kerajinan itu fluktuatif karena 70 persen hasil produknya masuk ekspor, makanya tergantung di luar," Indra kepada Liputan6.com di Kampung Walagar, Desa Kamulyan, Kecamatan Manon Jaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (7/8).
Usaha kerajinan yang didirikan Asep Barnas pada 1999 ini memiliki omzet penjualan per tahun mencapai Rp 360 juta. "Kalau omzet penjualan berkisar Rp 30 juta per bulan," ujar Indra.
Indra menambahkan, permintaan terbanyak biasanya dari Amerika Serikat dan Inggris. Selain itu, hasil kerajinan yang juga berasal dari bahan pandan, enceng gondok, lidi dan bambu juga merambah ke Prancis, Kanada, Spanyol, Malaysia, dan Jepang.
Jenis produk yang paling diminati pasar ekspor umumnya packaging dan miror. "Kalau produksi yang rutin ada packaging body shop. Kalau yang tidak continue biasanya suvenir untuk pernikahan. Tapi umumnya kita produksi dari pesanan," ujar Indra.
Soal sumber daya manusia, imbuh Indra, industri menengah ini menggunakan tenaga kerja yang bervariasi. Di antaranya, pekerja tetap, tenaga harian, dan tenaga borongan. "Kalau tenaga tetap biasanya mereka yang termasuk tenaga ahli," imbuh Indra.(ADI/ANS)
Indra Pandhulaksana, Kepala Produksi CV Mendong K Craft mengatakan 70 persen hasil produknya diekspor ke mancanegara. Sisanya memenuhi kebutuhan pasar lokal.
"Kondisi kerajinan itu fluktuatif karena 70 persen hasil produknya masuk ekspor, makanya tergantung di luar," Indra kepada Liputan6.com di Kampung Walagar, Desa Kamulyan, Kecamatan Manon Jaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (7/8).
Usaha kerajinan yang didirikan Asep Barnas pada 1999 ini memiliki omzet penjualan per tahun mencapai Rp 360 juta. "Kalau omzet penjualan berkisar Rp 30 juta per bulan," ujar Indra.
Indra menambahkan, permintaan terbanyak biasanya dari Amerika Serikat dan Inggris. Selain itu, hasil kerajinan yang juga berasal dari bahan pandan, enceng gondok, lidi dan bambu juga merambah ke Prancis, Kanada, Spanyol, Malaysia, dan Jepang.
Jenis produk yang paling diminati pasar ekspor umumnya packaging dan miror. "Kalau produksi yang rutin ada packaging body shop. Kalau yang tidak continue biasanya suvenir untuk pernikahan. Tapi umumnya kita produksi dari pesanan," ujar Indra.
Soal sumber daya manusia, imbuh Indra, industri menengah ini menggunakan tenaga kerja yang bervariasi. Di antaranya, pekerja tetap, tenaga harian, dan tenaga borongan. "Kalau tenaga tetap biasanya mereka yang termasuk tenaga ahli," imbuh Indra.(ADI/ANS)