Derita Biduan di Ujung Pisau Lipat

Lantaran dibakar api cemburu, seorang suami tega membunuh sang istri di sebuah kamar hotel di Jakarta. Si istri dicemburui lantaran kembali berprofesi sebagai biduan dangdut.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 Oktober 2002, 22:28 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sungguh kau suami yang kejam. Yang tiada berperasaan. Lepaskanlah aku lepaskan. Aku tak tahan ku tak tahan. Penggalan lirik lagu Elvy Sukaesih itu pasti tak akan dilantunkan lagi oleh Mila Karmila alias Shinta Karmila. Nyawa penyanyi dangdut yang kerap manggung di Bandung dan Cirebon, Jawa Barat, ini harus berakhir tragis di ujung pisau suami keduanya, Sugiarto alias A Liong. Kamar nomor 506 di Hotel Surya Baru, kawasan Jalan Batu Ceper, Gambir, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu kematian Mila pada pekan keempat September silam [baca: Gara-Gara Cemburu, Sugiarto Membunuh Istri Kedua].

Penemuan jenazah Mila berawal dari informasi seorang operator telepon hotel bernama Lisna. Saat itu, Lisna menerima telepon dari seorang wanita yang menginap di hotel berbintang dua tersebut. Menurut dia, dari nada suaranya, wanita itu sangat ketakutan. "Saya terima telepon dari kamar 506. Halo pagi, tolong Mbak saya takut, gitu. Takut apa?" ucap Lisna menuturkan percakapan singkat dengan almarhumah. Lantaran terputus, Lisna menambahkan, dia langsung melaporkan kepada atasannya yang bernama Arning. Mereka pun bersama sejumlah karyawan hotel dan anggota satuan pengamanan menuju kamar tersebut.

Sesampai di sana, seorang satpam segera mengetuk pintu. Tak lama kemudian, tampak seorang pria di balik pintu yang tak dibuka lebar. Menurut seorang satpam bernama Ahmad, pria itu mengatakan sedang mandi dan menutup pintu lagi. Namun, tindakan itu justru mengundang kecurigaan mereka. Pintu kamar kembali diketuk. Kali ini seorang karyawan hotel berteriak agar lelaki tersebut keluar. Tak sampai lima menit, pria itu keluar.

Saat itulah, bau anyir darah menyeruak dari dalam kamar. Genangan darah berceceran di mana-mana. Kecurigaan menguat. Beberapa karyawan seakan mengendus sebuah pembunuhan telah terjadi. Lelaki itu segera diringkus dan dibawa ke lantai bawah hotel, sambil menunggu kedatangan polisi. Beberapa satpam menjaga di depan kamar maut itu. Kepolisian Sektor Gambir yang diberitahu segera bertindak. Beberapa personel langsung dikerahkan ke tempat kejadian perkara.

Di kamar itu, polisi menemukan sesosok tubuh wanita yang sudah tak bernyawa. Mayat perempuan ini hanya mengenakan pakaian dalam dan tergeletak di samping tempat tidur penuh bercak darah. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka tusukan. Sedangkan kepalanya benjut-benjut. Selain mengamankan lokasi kejadian dan menyita berbagai barang bukti, polisi juga menggelandang pria yang diduga kuat membunuh wanita malang itu.

Tanpa perlu dipaksa, lelaki bernama Sugiarto itu mengaku sebagai suami si korban. Hasil visum di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakpus, menunjukkan, Mila ditusuk sebanyak 16 kali. Dari jenis lukanya, tusukan dipastikan berasal dari pisau lipat yang ditemukan di lokasi pembunuhan.

Kepada polisi, pria berperawakan kecil ini berterus terang membunuh istrinya. Awalnya, dia memesan atau mem-booking kamar di hotel di kawasan Gambir itu pada 23 September 2002, dua hari menjelang pembunuhan. Menurut Sugiarto, dia memang mengajak istrinya menginap di hotel untuk beberapa hari. Tapi, baru sehari menginap, mereka berulang kali bertengkar. "Dia meminta saya menceraikannya. Saya nggak punya salah, kok. Bahkan, dia bilang surat nikah nggak sah," tutur Sugiarto.

Meski Mila terus-menerus meminta cerai, Sugiarto tetap tak mengabulkan. Mudah ditebak, pertengkaran terjadi lagi, sehingga memicu kemarahan Sugiarto. Amarahnya memuncak saat Mila melalui telepon genggam menerima telepon dari seseorang. Padahal, saat itu Mila sedang bersamanya. Apalagi, perbincangan istrinya di telepon terdengar mesra. Dibakar api cemburu, Sugiarto melabrak sang istri. Pertengkaran pun menghebat.

Entah setan mana yang merasuki benak Sugiarto, dia nekat mengambil sebilah pisau lipat dari dalam tas istrinya. Kalap, dia segera menusukkan benda tajam itu ke tubuh Mila berulang-ulang. Perempuan itu jatuh tersungkur. Beberapa saat kemudian, dalam keadaan setengah sadar, Mila mencoba meminta bantuan dengan menelepon resepsionis hotel. Namun, perbuatan Mila diketahui Sugiarto dan membuatnya semakin beringas. Tubuh Mila pun didorong dan dan kepalanya dipukul dengan gelas. Belum puas, dia membenturkan kepala Mila ke sebuah meja kecil. "Saya sudah panas. Ya, nggak tahu ya. Nggak sadar lagi, tuh," ucap Sugiarto seakan menyesal.

Setelah membunuh, Sugiarto sempat mandi hingga akhirnya pintu kamar diketuk satpam dan petugas hotel. Saat itulah, dia baru menyadari bahwa istrinya sudah tewas. Sugiarto menikahi Mila akhir Juli 2001. Namun, belakangan, dia mengakui hubungan dengan istrinya sangat buruk. Di mata Sugiarto, sikap Mila berubah sejak pernikahan mereka baru berjalan empat bulan. Apalagi sejak usaha bahan bangunannya bangkrut. Seiring dengan memburuknya keuangan, Mila sering bepergian dengan sejumlah laki-laki tak dikenal untuk berkencan.

Satu hal yang membuat malu Sugiarto, ternyata keluarganya mengetahui kebiasaan Mila berpelesir dengan pria-pria tak dikenal. Meski kesal dengan perbuatan istrinya, dia menyesal telah membunuh Mila. Bahkan, Sugiarto mengaku sebenarnya masih mencintai Mila. Apalagi kalau teringat saat mereka berdua berkenalan di sebuah diskotek di Cirebon. Bahkan, dia tetap mengawini Mila meski telah janda dan mempunyai putra bernama Aditya.

Sugiarto memang boleh menyesal atau berdalih, namun polisi tetap mengganjar perbuatan sadisnya. Menurut Kepala Polsek Gambir Komisaris Polisi Reynhard, saat polisi meringkus Sugiarto, pria itu langsung mengakui penganiayaan terhadap istrinya. Kendati demikian, saat itu, dia belum mengetahui bahwa sang istri telah mengembuskan napas terakhir. Berdasarkan reka ulang dan keterangan saksi-saksi, polisi menetapkan Sugiarto sebagai tersangka. Pria itu bakal dijerat Pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Perbuatan Menghilangkan Nyawa Orang Lain. Namun, Reynhard menambahkan, hingga kini polisi belum menemukan unsur terencana dalam kasus pembunuhan itu.

Kehilangan seorang anak, apalagi dengan cara begitu tragis tentu sangat menyedihkan. Menurut ibu kandung Mila, Sukaesih, beberapa bulan setelah menikah dengan Sugiarto, anaknya sering bercerita perihal perilaku buruk sang suami. Mila sering mengeluh suaminya yang ringan tangan. Bahkan, dalam beberapa pertengkaran, Sugiarto pernah mengancam akan membunuh istrinya.

Lantaran takut suaminya benar-benar melaksanakan ancaman itulah Mila lebih sering tinggal dengan orang tuanya di Bandung sejak Desember 2001. Hal itu dibenarkan Sukaesih. "Pernah waktu itu malem-malem dianterin sama kakaknya yang menjadi polisi. Itu saking takutnya dibunuh," ungkap Sukaesih sembari terisak mengenang kepahitan hidup sang anak.

Sukaesih mengakui buruknya hubungan Mila dengan Sugiarto. Begitu pula permintaan sang anak agar suaminya menceraikannya. Menurut dia, tekad Mila untuk bercerai karena tak tahan terhadap perilaku suaminya yang berubah menjadi kasar. Ada hal lain yang diungkapkan Sukaesih. Sebenarnya, Sugiarto pernah menyatakan bersedia mengabulkan permintaan cerai Mila. Namun, dia meminta syarat agar Mila harus memberikan uang tunai sebesar Rp 200 juta.

Mila tak mengindahkan permintaan sang suami. Apalagi, Sugiarto tak dapat memberinya nafkah. Nah, Mila pun berinisiatif mencari penghasilan sendiri di dunia yang pernah digelutinya, yaitu sebagai penyanyi dangdut. Belakangan dia juga ikut bermain dalam sinetron yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta.

Darso, ayah Mila, turut membela anak keempatnya. Menurut dia, aktivitas anaknya mengharuskan bergaul dengan banyak orang. Itulah yang mungkin membuat Sugiarto cemburu. Kegiatan Mila itu jugalah yang tampaknya menyebabkan Sugiarto menuduh istrinya menjadi wanita panggilan. Sedangkan sikap kasar serta ancaman demi ancaman yang diterima Mila membuat Sukaesih tak mengerti putrinya masih bersedia diajak menginap di hotel di Jakarta. Keputusan yang ternyata berakhir maut. Padahal, menurut Sukaesih, dia sudah melarang Mila menemui suaminya.

Sehari setelah kepergiannya ke Ibu Kota, Mila sempat menelepon keluarganya. Ketika itu, sang biduan ini meminta ibunya memberitahu ayahnya menjemput dia di Jakarta. Keinginan itu disampaikan karena ia tak tahan terhadap perilaku buruk suaminya. Malang, ternyata Tuhan berkehendak lain. Belum sempat dia dijemput keluarga, maut lebih dahulu merenggut.

Sebagian besar penggemar musik dangdut di Kota Kembang, mungkin asing mendengar nama Mila Karmila. Soalnya, dalam sebuah album lagu dangdut yang sudah dikeluarkan, Mila menggunakan nama Shinta Karmila. Terlebih album itu sendiri memang kurang berhasil di pasaran. Kendati demikian, seorang penyanyi dangdut di Bandung yang mengenal Mila meragukan tudingan bahwa korban merangkap sebagai pekerja seks. Alasannya, sebagai pekerja seni, Mila harus bersikap baik terhadap semua orang.

Kematian Mila memang patut disesali. Sepeninggalan Mila, yang menjadi perhatian keluarga dalah Aditya. Buah hati Mila ini masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Tentu saja anak ini masih memerlukan kasih sayang yang besar, termasuk keinginan Aditya yang pernah meminta ibunya membelikan sebuah sepeda. Saat itu, Mila hanya meminta anaknya bersabar menanti dia mendapatkan uang. Kini, harapan anak Mila pupus sudah. Sang ibu sudah tiada.(ANS/Tim Derap Hukum)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya