3 Musim Kelabu Persib Bandung: Kerap Apes meski Banyak Bintang

Konsisten merupakan kelemahan terbesar klub sepak bola, tidak terkecuali Persib Bandung.

oleh Zulfirdaus HarahapDiterbitkan 27 April 2020, 06:30 WIB
Persib Bandung. (Bola.com/Adreanus Titus)

Jakarta - Konsisten merupakan kelemahan terbesar klub sepak bola, tidak terkecuali Persib Bandung. Klub kebanggaan bobotoh itu sulit mempertahankan performa sehingga kinerjanya mengalami pasang surut.

Ketika masih tampil di Perserikatan, Persib Bandung merupakan klub raksasa dengan koleksi gelar yang melimpah. Persib meraih lima titel dan delapan kali menghuni peringkat kedua.

Memasuki kompetisi Liga Indonesia, performa Persib terbilang inkonsisten. Hal itu dibuktikan dengan hanya mampu meraih dua gelar sejak 1994-2019, jumlah yang teramat sedikit buat klub dengan sejarah panjang seperti Persib.

Selebihnya, performa Persib memang tak buruk-buruk amat karena konsisten finis di posisi 10 besar dan tak jarang 5 besar. Meski demikian, Persib juga pernah mengalami masa-masa kelam karena finis di posisi belasan.

Pemicunya tak terlepas dari buruknya penampilan pada awal musim hingga keliru dalam pemilihan pemain hingga pelatih. Kemudian juga ada faktor-faktor lain semisal tak konsistennya pemain andalan mampu tampil semusim penuh.

Penyebabnya bisa beragam, mulai dari akumulasi kartu, cedera, hingga sanksi-sanksi lainnya. Hal inilah yang membuat Persib Bandung sempat memiliki masa-masa kelam dalam sepak bola Indonesia.

Bola.com mencatat, setidaknya ada tiga musim yang patut disebut penampilan Persib Bandung paling buruk. Indikatornya adalah pencapaian akhir yang mampu diraih klub berjulukan Maung Bandung tersebut.


Divisi Utama Liga Indonesia 2003

Aksi Bobotoh mengibarkan bendera dengan logo klub Persib Bandung pada Launching Jersey dan tim di Stadion Siliwangi, Bandung, Minggu (2/4/2017). Jersey baru akan digunakan untuk mengarungi Liga 1 Indonesia. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Musim 2003 bisa dipastikan sebagai yang terburuk buat Persib sejak era Liga Indonesia. Padahal, ketika itu Persib untuk pertama kalinya menggunakan jasa pelatih asing.

Kursi pelatih ketika itu dihuni Marek Andrzej Sledzianowski asal Polandia. Persib ketika itu mendatangkan trio Polandia untuk mendukung kinerja Marek Andrzej Sledzianowski yakni Mariusz Mucharsky, Piotr Orlinski, dan Maciej Dolega.

Akan tetapi performa Persib asuhan Marek Andrzej Sledzianowski tak sesuai harapan. Persib tak mampu meraih kemenangan dalam enam laga awal yakni dua kali imbang dan empat kali kalah.

Marek Andrzej Sledzianowski kemudian harus kehilangan jabatannya dan digantikan Juan Antonio Paez. Trio Polandia juga didepak.

Juan Antonio Paez kemudian menggantikan trio Polandia dengan pemain asal Chile, yakni Alejandro Tobar, Rodrigo Alejandro, dan Claudio Lizama. Meski demikian, performa Persib tetap belum mampu sesuai harapan.

Lanjut Baca:

Bayangan degradasi kemudian menghampiri Persib karena finis di urutan ke-16 klasemen akhir musim 2003 dengan 45 poin hasil 12 kali menang, sembilan kali imbang, dan 17 kali kalah. Persib berhasil tetap bertahan di Divisi Utama Liga Indonesia karena finis di puncak pada klasemen kecil play-off.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya