Pesona Luis Milla, Pelatih Timnas Indonesia yang Dicintai Publik Walau Kariernya Seumur Jagung

Publik Indonesia sempat dibuai harapan akan kesuksesan Timnas Indonesia saat PSSI mendatangkan Luis Milla. Namun, harapan gelar juara tak pernah terwujud karena PSSI menceraikan Luis Milla di tengah jalan.

oleh Zulfirdaus HarahapDiterbitkan 22 April 2020, 17:25 WIB
Timnas Indonesia - Luis Milla (Bola.com/Adreanus Titus)

Jakarta - PSSI membuat gebrakan dengan mendatangkan Luis Milla untuk menjadi pelatih Timnas Indonesia pada 21 Januari 2017. Kedatangan pelatih asal Spanyol itu membuat harapan publik Tanah Air melihat Timnas Indonesia kembali berprestasi mencuat.

Luis Milla dikenal sebagai pemain berpengalaman ketika masih aktif bermain. Luis Milla pernah menorehkan tinta emas dalam kariernya setelah membela Barcelona, Real Madrid, hingga Valencia.

Semasa kariernya di Spanyol, Luis Milla tiga kali meraih gelar La Liga, tiga trofil Copa del Rey, dan sekali gelar UEFA Cup Winners. Adapun di karier kepelatihannya, Luis Milla sukses memberikan gelar Piala UEFA U-21 untuk Timnas Spanyol.

Wajar bila harapan publik Indonesia hadir terhadap sosok Luis Milla. PSSI kemudian memberikan dua tugas utama untuk Luis Milla yakni meraih medali di SEA Games 2017 dan prestasi di Asian Games 2018.

Ketika itu, Timnas Indonesia senior sedang tidak menghadapi event apa pun. Luis Milla ditugaskan fokus menukangi Timnas Indonesia U-22 untuk dua event besar tersebut.

"Pekerjaan ini sangat penting bagi saya karena merupakan sebuah tanggung jawab besar untuk membentuk sebuah tim yang bagus. Saya akan mencoba mentransfer ilmu yang saya punya dari pengalaman saya di Eropa. Saya harap itu dapat membuat Timnas Indonesia mencapai performa yang diinginkan," tegas Luis Milla.

Dalam melakukan tugasnya, Luis Milla dibantu dua asisten asal Spanyol yakni Miguel Gandia sebagai pelatih fisik, dan Eduardo Perez sebagai asisten pelatih kiper. Adapun Bima Sakti dipercaya bergabung dengan tim kecil yang dibentuk Luis Milla.


Ekspektasi Tinggi

(Bola.com/Peksi Cahyo)

Laga debut Luis Milla sebagai pelatih Timnas Indonesia terjadi pada 21 Maret 2017. Timnas Indonesia menjamu Myanmar pada laga persahabatan di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor.

Bermodalkan mayoritas pemain muda, Luis Milla mendulang hasil tak sesuai harapan. Timnas Indonesia menelan kekalahan 1-3 dari Myanmar.

"Saya sangat senang dan bangga dengan pemain-pemain saya. Jalan masih panjang. Kami mempunyai pemain bagus, mereka kerja keras, berjuang dan berkorban untuk Indonesia," ujar Luis Milla setelah pertandingan itu.

Lanjut Baca:

Namun, gaya kepelatihan Luis Milla yang mengandalkan pemain muda mendapatkan dukungan publik. Bersama Luis Milla, bakat-bakat muda Indonesia mendapatkan kesempatan untuk membela Timnas Indonesia senior. Event pertama Luis Milla bersama Timnas Indonesia terjadi pada SEA Games 2017. Ketika itu, Luis Milla dipercaya menukangi Timnas Indonesia U-22. Timnas Indonesia U-22 tergabung di Grup B bersama Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, dan Timor Leste. Septian David dkk berhasil lolos ke semifinal setelah mengumpulkan 11 poin hasil tiga kali menang dan dua kali imbang. Namun, impian meraih medali emas SEA Games 2017 pupus setelah Timnas Indonesia U-22 kalah 0-1 dari Malaysia. Timnas Indonesia U-22 meraih perunggu dari SEA Games setelah mengalahkan Myanmar 3-1 pada perebutan peringkat ketiga. PSSI ketika itu masih memberikan kesempatan kepada Luis Milla. Ketua Umum PSSI ketika itu, Edy Rahmayadi, menyebut masa depan Luis Milla akan diputuskan setelah Asian Games 2018. "Tergantung nanti Asian Games, kami punya target di Asian Games. Wajar kalau kami lihat nanti bagaimana hasil yang sudah dipersiapkan selama dia melatih dua tahun," kata Edy. Target yang dibebankan kepada Luis Milla saat itu teramat berat. Luis Milla diminta berhasil mengantarkan Timnas Indonesia U-22 sampai semifinal Asian Games 2018. Harapan sempat melambung ketika Timnas Indonesia U-22 berhasil keluar dari lubang jarung babak penyisihan grup. Timnas Indonesia U-22 menjadi juara grup bermodalkan sembilan poin hasil tiga kali menang dan sekali kalah. Namun, impian melaju ke semifinal kandas. Timnas Indonesia menyerah pada babak 16 setelah kalah 3-4 melalui drama adu penalti melawan Uni Emirat Arab. Luis Milla kecewa karena perjuangan anak-anak asuhnya dilukai kepemimpinan wasit yang memberikan dua penalti. Menurut Milla, penalti kedua UEA patut dipertanyakan. Pelatih Spanyol itu menganggap Shaun Robert Evans tidak layak untuk terus memimpin pertandingan, terutama di Asian Games 2018. "Bisa dibayangkan bagaimana perasaan kami, tentu sedih dan kecewa. Saya terbawa oleh perasaan karena anak-anak sudah luar biasa. Anak-anak ini tidak layak tereliminasi. Saya harap suporter tetap mengapresiasi perjuangan mereka," ujar Luis Milla.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya