Anthony Fauci, Ilmuwan Gaek Bersuara Lantang di Tengah Pandemi Covid-19

Komentarnya tidak selalu menenangkan, tapi selalu didengar warga Amerika Serikat terutama saat pandemi virus Corona Covid-19.

oleh Marco TampubolonDiterbitkan 14 April 2020, 20:30 WIB
Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, pergi setelah berbicara selama pengarahan harian Gugus Tugas Koronavirus Gedung Putih di Ruang Sidang James Brady di Gedung Putih 13 April 2020 di Washington, DC. (Alex Wong/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Amerika Serikat, menjadi negara paling parah terpapar virus Corona Covid-19. Ratusan ribu orang di Negeri Paman Sam dinyatakan positif mengidap Covid-19 dan puluhan ribu jiwa tidak terselamatkan.

Seluruh sendi kehidupan masyarakat terkena imbasnya. Perekonomian memburuk. Dan tim medis kini harus berjuang mati-matian merawat pasien yang terus bertadangan seakan tak ada habisnya. 

Sejumlah daerah termasuk New York terpaksa menerapkan kebijakan lockdown untuk menekan laju penularan Covid-19 itu. Masyarakat diminta bertahan di rumah dah tempat-tempat umum ditutup. 

Di tengah situasi sulit ini, hanya ada satu orang yang paling didengar masyarakat di sana. Bukan Presiden AS, Donald Trump, tapi sosok tersebut menjelma dalam diri Dr Anthony Fauci.

Apa yang keluar dari mulut Fauci akan disimak baik-baik. Berbasis sains, komentar-komentar direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS tersebut, terdengar sebagai suara kebenaran.

Sejak pandemi Covid-19 melanda AS, Fauci semakin sering terlihat di dekat Trump. Saat Trump berpidato, dia berdiri beberapa meter di belakangnya. Meski demikian, kehadiran Fauci bukan sekedar pelengkap. Tidak jarang pria sepuh itu naik ke atas mimbar untuk memberikan ketarangan terkini kepada masyarakat.

Menurut jajak pendapat yang pernah dilakukan, masyakarat AS mempercayainya. Sebab Fauci tidak pernah menutupi sesuatu. Ilmuwan terkemuka itu bahkan secara blak-blakan mengatakan bahwa pandemi virus corona akan memburuk di AS dan mengkritik respons sejumlah pemerintah federal. 

Kepada CNN Fauci juga berkata, kalau pandemi ini dapat membunuh antara 100.000 dan 200.000 warga AS jika mitigasi gagal. Proyeksi-proyeksi itu telah diturunkan menjadi di bawah 100.000.

 


Berani Luruskan Komentar Presiden

Presiden AS Donald Trump bersama Dr. Anthony Fauci dan Dr. Deborah Birx yang menjadi penasihat Gedung Putih melawan Virus Corona (COVID-19). Dok: Gedung Putih

Kejujuran dalam bersuara jugalah yang membuatnya berani mengoreksi pendapat presiden. Tidak hanya sekali tapi berkali-kali termasuk ketika Trump selalu membandingkan Covid-19 dengan flu biasa. Begitu juga dengan komentar Trump terkait penggunaan obat malaria terhadap pasien Covid-19.

"Jawaban saya adalah tidak," ujar Fauci saat ditanya apakah dia sudah menemukan obat yang mujarab. "Bukti yang Anda bicarakan tidak lebih dari bukti anekdotal," ujarnya menambahkan.

Lanjut Baca:

"Saya telah melayani enam presiden dan saya tidak melakukan apapun selain menyampaikan bukti sains dan membuat kebijakan berdasarkan ilmu pengetahuan dan bukti yang ada," ujar Fauci di hadapan parlemen AS awal bulan lalu seperti dilansir dari aljazeera.com, baru-baru ini. Belum lama ini, Fauci kembali mengritik pemerintah AS. Dalam wawancara dengan CNN, Fauci mengatakan seandainya social distancing dan perintah untuk bekerja di rumah diterapkan lebih awal, pemerinta AS dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa. Komentar ini segera dibantah Trump lewat Twtiter-nya yang disertai dengan tagar #pecatFauci. Meski demikian, juru bicara Gedung Putih segera membentah bila presiden Trump akan memberhentikan pria berdarah Italia-Amerika tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya