SHOWBIZ BLAK-BLAKAN: Aktor Tampan Itu Membuat Putriku Durhaka Padaku (Bagian 1)

Gea dulu anakku yang manis. Kariernya sebagai penyanyi melejit. Kini Gea berubah sejak pacaran dengan bintang film. Inilah Showbiz Blak-Blakan bagian pertama.

oleh Anjali LDiterbitkan 14 April 2020, 20:45 WIB
Showbiz Blak-Blakan

Liputan6.com, Jakarta Siang hari begini, biasanya aku mengantar putriku, Geya Hala, ke studio rekaman. Sekadar jaming dengan band pengiring atau mulai merekam satu dua single untuk dikirim ke produser, Pak Astono. Atau, menemaninya sesi pemotretan di studio situs berita, majalah, manggung di kafe, hotel, atau mal di Jakarta maupun di daerah lain.

Geya yang memiliki nama panggung Gea Alana tengah populer setelah dua albumnya meledak. Album pertamanya bisa terjual 200 ribu CD dan mendapat sertifikat platinum. Plakatnya masih terpasang di kamarku. Hanya plakat itu yang tersisa setelah ia memutuskan pergi dari rumah.

Karena memang hanya itu yang ditinggalkan Gea untukku. Oh ya, namaku Isha, ibunya Gea. Aku kini tinggal ditemani adiknya Gea, Yami. Suamiku meninggal tiga tahun sebelum Gea debut dengan album perdananya yang laris manis itu.


Aditya Tampaknya Baik

Ilustrasi kado untuk ibu (Foto: Photo by Shawn Ang on Unsplash)

Aku ingat betul, album itu dirilis tahun 2010. Usia Gea baru 18 tahun. Tiga tahun setelah album itu meledak, Gea berkenalan dengan bintang film tampan, sebut saja Aditya. Aku menyambut Aditya karena tampaknya pria baik-baik.

Yang paling penting, Aditya seiman dengan Gea. Tak ada pertanda buruk soal ini. Aku temani Gea menjalani pekerjaan ngamen dari kota ke kota seperti biasa. Aditya saat tidak syuting sering menemaniku dan Gea. Kepadaku, Aditya menyatakan keseriusannya.

Aku menghargai namun memintanya untuk tak buru-buru menikah. Bukannya apa-apa. Gea masih muda. Aku berharap Gea kuliah S-1 dulu seperti permintaan almarhum ayahnya. Dua tahun pacaran, keduanya makin solid. Aku turut senang karena Gea tidak gonta-ganti pacar.


Perasaanku Mulai Waswas

Itu membentuk citranya sebagai gadis baik-baik di mata pencinta musik Indonesia pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Selama berkarier, aku yang mengelola keuangan Gea. Selain untuk operasional harian, aku mengalokasikan uang itu untuk investasi berupa emas, deposito, membeli beberapa rumah, dan apartemen tipe studio untuk disewakan.

Pada 2015, perasaanku mulai waswas. Ini bermula ketika Gea berbisnis kuliner dengan Aditya. Yang dimintanya menurutku tidak sedikit, 200 jutaan untuk menyewa ruko, merekrut sejumlah karyawan, dan juru masak. Katanya, kekurangannya akan ditalangi Aditya. Karena baru sekali ini, aku iyakan.

Lanjut Baca:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya