Mengenal Herd Immunity yang Disebut Dapat Memperlambat Penyebaran Virus Corona Covid-19

Istilah herd immunity atau kekebalan kelompok mungkin terdengar cukup asing bagi banyak orang.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 24 Maret 2020, 18:45 WIB
Herd Immunity Dapat Lawan Corona? Ini 4 Faktanya

Liputan6.com, Jakarta- Penyebaran virus corona atau COVID-19 tengah menjadi momok menakutkan. Sudah ratusan orang positif terinfeksi virus corona di Indonesia. Pemerintah pun telah menginstruksikan kepada masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak mendatangi tempat ramai demi meredam penularan dari COVID-19.

Dilansir Liputan6.com dari Merdeka.com pada Selasa (24/3/2020) World Helath Organization (WHO) menyarankan agar para pemimpin dunia mengambil tindakan yang yang tegas dan agresif guna mencegah semakin banyaknya korban terdampat virus corona. Salah satu cara yang juga dibahas dalam WHO bersama para pemimpin dunia terkait dengan virus corona ini ialah Herd Immunity atau kekebalan kelompok.

Istilah herd immunity atau kekebalan kelompok mungkin terdengar cukup asing bagi banyak orang. Meski disebut bisa memperlambat penyebaran dari virus corona COVID-19, namun tak sedikit pula yang masih meragukan hal tersebut. Untuk itu, kamu juga perlu mengetahui lebih lanjut mengenai istilah herd immunity dan cara kerjanya.

Herd immunity atau yang dikenal dengan imunitas kelompok didefiniskan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) sebagai situasi di mana populasi dari masyarakat yang memiliki kekebalan terhadap penyakit menular lebih banyak, sehingga tidak terjadi adanya penularan secara luas. Seseorang yang memiliki kekebalan terhadap penyakit menular pun bisa dimiliki karena vaksinasi ataupun adanya antibodi dari infeksi sebelumnya.

Kekebalan kelompok atau herdy immunity ini juga dianggap mampu melindungi seseorang yang tidak mendapat vaksinasi atau seseorang yang minim akan kekebalan tubuh. Hal ini bisa membuat lebih sedikit orang yang dapat terinfeksi dari penyakit menular.

Adanya herd immunity juga dianggap mampu memberikan perlindungan kepada orang lain yang cukup rentan, mulai dari bayi baru lahir hingga para lansia. Sehingga akan lebih sedikit orang yang bisa terinfeksi, karena penyebaran virus dari orang ke orang cukup sulit.

Lanjut Baca:

"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena kebanyakan orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular di London School of Hygiene & London yang dilansir dari Aljazeera.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya