Berkabung untuk Korban Penembakan Tentara, Pejabat Thailand Berpakaian Hitam

Penembakan brutal menewaskan 27 orang mengguncang Thailand.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 11 Februari 2020, 14:36 WIB
Warga Thailand berkabung untuk para korban penembakan massal di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 9 Februari 2020. (Xinhua)

Liputan6.com, Jakarta Penembakan brutal menewaskan 27 orang mengguncang Thailand. Pelakunya merupakan seorang tentara bernama Jakraphanth Thomma.

Selain korban tewas, insiden itu itu juga melukai lebih dari 50 orang lainnya akibat tembakan membabi buta. Insiden penembakan massal itu terjadi akhir pekan lalu di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand timur laut.

Sebagai tanda berkabung untuk para korban penembakan, semua pejabat dan menteri kabinet di Gedung Pemerintah Thailand diwajibkan mengenakan pakaian hitam pada Selasa (11/2/2020), seperti dilansir Xinhua. Instruksi untuk mengenakan pakaian hitam tersebut dikeluarkan Gedung Pemerintah Thailand pada Senin 10 Februari.

Berbagai karangan bunga diletakkan di depan pusat perbelanjaan Terminal 21 di Nakhon Ratchasima, tempat tragedi tersebut terjadi.

Sekitar 5.000 warga lokal berkumpul di pusat perbelanjaan tersebut untuk mengikuti upacara doa bersama sambil menyalakan lilin untuk mengenang para korban penembakan.

Sementara itu, Gubernur Nakhon Ratchasima Wichian Chantharanothai mengatakan, sembilan korban luka berada dalam kondisi kritis, tiga di antaranya masih belum sadar.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Motif Pelaku

Rekaman CCTV menunjukkan tentara Thailand Jakrapanth Thomma berjalan sambil membawa senjata di mal Terminal 21, Nakhon Ratchasima, Thailand, Sabtu (8/2/2020). Petugas keamanan berhasil menembak mati Jakraphanth Thomma. (MCOT/MCOT Public Company Limited/AFP)

Pelaku penembakan tewas ditembak aparat usai bersembunyi di mal setelah memberondong tembakan yang menewaskan puluhan orang. Sebelum mengamuk di mal, pelaku penembakan terlebih dahulu membunuh atasannya.

Dilansir BBC, Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha menyebut motif pelaku adalah dendam. Pelaku percaya dirinya dicurangi terkait urusan properti.

Sebelum ditembak mati, pelaku sempat berbagi postingan di Facebook. Ia sempat berkata tidak ada yang bisa menghindari kematian. 

Facebook akhirnya memblokir postingan tersebut untuk menyampaikan duka cita, serta mengecam tindakan pelaku. 

"Tidak ada tempat di Facebook bagi orang-orang yang melakukan kekejian ini, tidak pula kami membiarkan orang-orang untuk memuji atau mendukung serangan ini," tulis Facebook.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya