Pemburu Di Manchester Biru: Konflik Kurang Runcing, Penambah Stamina Mengejar Mimpi

Tiba-tiba, terdengar kabar film Pemburu Di Manchester Biru tayang Kamis (6/2/2020).

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 07 Februari 2020, 07:00 WIB
Poster film Pemburu di Manchester Biru. (Foto: Dok. Oreima Films)

Liputan6.com, Jakarta Pemburu di Manchester Biru, judul yang sangat keren. Sayang, jalan film ini dari proses produksi menuju penayangan kurang keren. Konon, syuting Pemburu Di Manchester Biru rampung 2 atau 3 tahun yang lalu.

Proses pascaproduksi diwarnai sejumlah problem, membuat film ini sempat mengambang. Tiba-tiba, terdengar kabar film Pemburu Di Manchester Biru tayang Kamis (6/2/2020).

Tanpa promosi nyaring, sejujurnya kami khawatir film ini kurang mengigit di pasar. Mereka yang membaca bukunya tentu tahu apa yang disuarakan Pemburu di Manchester Biru. Yang belum membaca, saatnya mengonfirmasi langsung di bioskop. Pertanyaannya, sebagus apa karya Rako Prijanto ini?


Dari Payakumbuh ke Manchester

Adipati Dolken sebagai Hanief. (Foto: Dok. Oreima Films)

Tahun 2016, Hanif Thamrin (Adipati Dolken) meninggalkan Payakumbuh, Sumatra Barat, untuk kuliah di London, Inggris. Kondisi ekonomi membuat ibu (Vonny Cornelia) dan ayah Hanief (Donny Alamsyah) tak bisa mendampingi Hanief saat wisuda. Di London, Hanief kuliah sembari menyambung hidup dengan bekerja serabutan.

Tamat kuliah, Hanief yang menumpang di apartemen Pringga (Ganindra Bimo) melamar kerja di sejumlah perusahaan. Nasib memihak pada Hanief. Ia diterima kerja sebagai awak redaksi klub sepakbola Manchester City. Hanief orang Indonesia pertama yang bekerja di sana. Pindah dari London ke Manchester bukan perkara mudah.

Ia mesti beradaptasi dengan lingkungan kerja yang sombong dan dingin. Tidak disarankan bertanya kepada para senior karena semua terjawab di buku petunjuk. Hanief mulai tak betah namun kadung janji pada ayahnya.

 


Konflik dari Tiga Sumber

Salah satu adegan film Pemburu di Manchester Biru. (Foto: Dok. Oreima Films)

Pemburu Di Manchester Biru murni membahas perjalanan meraih mimpi dan persahabatan. Tak ada noda cinta dalam naskah yang disusun Titien Wattimena. Fokus cerita menggambarkan jatuh bangun Hanief menyambung hidup, mencari pekerjaan, dan beradaptasi dengan lingkungan baru meski berada di negara yang sama.

Kekuatan film ini terletak pada pendirian Titien menyusun naskah bertema pertemanan. Tak sedetik pun tokoh utama tergoda atau digoda cinta meski dalam kehidupannya nyata, Hanief pacaran jarak jauh.

Konflik berasal dari tiga titik, yakni romantika kantor baru, rindu dendam dengan Pringga, dan pergolakan batin Hanief. Tiga jenis konflik ini diputar sampai Hanief memahami esensi hidup dan pertemanan.

Lanjut Baca:

Tanpa cinta, Pemburu Di Manchester Biru tak lantas kehilangan konflik. Hanya, pengembangan konflik kurang runcing. Kami tidak melihat rindu yang menggebu untuk kampung halaman. Tak melihat pula bagaimana akhir perjalanan ayah Hanief yang menjadi nyawa bagi perjuangan sang anak di Inggris. Tak tergambar jelas bagaimana cinta dan kehilangan terjadi dalam kehidupan tokoh utama. Dunia kerja dalam Pemburu di Manchester Biru berkutat pada wawancara narasumber dan konferensi pers. Kami tak melihat bagaimana tokoh utama ditempatkan dalam stadion olahraga yang sarat penonton, suasana gempita pertandingan sepak bola, atau mewawancara para pemain lapis pertama. Bahkan, wawancara indepth dengan tokoh pun tak tergambar jelas. Kami hanya disuguhi konflik horizontal di redaksi, kegagalan mewawancara, dan beberapa cerita samping.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya