Liputan6.com, Jakarta: Lagi-lagi Kwik Kian Gie bersuara keras. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas ini kembali meminta agar divestasi Bank Niaga ditunda. Ia juga bersikukuh agar obligasi rekap pemerintah di bank tersebut ditarik terlebih dahulu sebelum dilakukan divestasi. Jika tidak, divestasi hanya akan merugikan bangsa Indonesia. Penegasan ini disampaikan Kwik seusai bertemu Presiden Megawati Sukarnoputri di Jakarta, Selasa (17/9).
Seperti diketahui, Konsorsium Commerce Asset Holding Berhad Malaysia sepakat menawar harga saham Bank Niaga sebesar Rp 26,5 per lembar [baca: Harga Penawaran Commerce Assets Berhad Dianggap Layak ]. Harga ini lebih tinggi dari yang ditawarkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, yakni Rp 24,84 per lembar. Meski begitu, anggota Komisi IX DPR dan Tim Kecil Divestasi Saham Bank Niaga tetap akan mendesak BPPN menegosiasikan kembali penjualan saham.
DPR juga meminta BPPN menaikkan harga saham menjadi Rp 30 sampai Rp 40 per lembar. Tujuannya, agar hasil divestasi optimal dengan obligasi rekap yang sudah dikeluarkan pemerintah, yakni sebesar Rp 9,5 triliun [baca: Penawaran Harga Saham Bank Niaga Dinilai Realistis].(ULF/Tri Ambarwarti dan Eko Purwanto)
Seperti diketahui, Konsorsium Commerce Asset Holding Berhad Malaysia sepakat menawar harga saham Bank Niaga sebesar Rp 26,5 per lembar [baca: Harga Penawaran Commerce Assets Berhad Dianggap Layak ]. Harga ini lebih tinggi dari yang ditawarkan Badan Penyehatan Perbankan Nasional, yakni Rp 24,84 per lembar. Meski begitu, anggota Komisi IX DPR dan Tim Kecil Divestasi Saham Bank Niaga tetap akan mendesak BPPN menegosiasikan kembali penjualan saham.
DPR juga meminta BPPN menaikkan harga saham menjadi Rp 30 sampai Rp 40 per lembar. Tujuannya, agar hasil divestasi optimal dengan obligasi rekap yang sudah dikeluarkan pemerintah, yakni sebesar Rp 9,5 triliun [baca: Penawaran Harga Saham Bank Niaga Dinilai Realistis].(ULF/Tri Ambarwarti dan Eko Purwanto)