Liputan6.com, Jakarta Danger Close salah satu film perang produksi Australia yang mendapat ulasan apik dari sejumlah kritikus. Menuturkan romantika perang dan dampak psikologisnya bagi para pelaku, Danger Close membingkai detail adu tembak di medan laga.
Darah, luka, korban, dan pergerakan emosi para serdadu terasa dominan di sepanjang film ini. Danger Close lantas berfokus pada situasi perang.
Advertisement
Soal detail mengapa konflik ini pecah dan apa yang terjadi selepas perang meletus, biar pelajaran sejarah yang menjelaskan. Fokus di situasi perang ini melahirkan sejumlah konsekuensi untuk Danger Close. Ada plus minusnya, selamat menyimak.
Perang di Perkebunan Karet
Agustus 1966, Vietnam terbagi dua kawasan yakni Utara dan Selatan. Kala itu, Utara dikuasai komunis. Australia yang berkepentingan mengirim 108 pasukan muda minim pengalaman di medang perang. Kontak senjata terjadi di perkebunan karet Long Tan di mana tentara Australia terpaksa melawan 2.500 prajurit Vietnam.
Fase kritis terjadi ketika puluhan pasukan Australia di bawah pimpinan Mayor Harry Smith (Travis Fimmel) terkepung. Ia memohon bantuan senjata pada Letnan Kolonel Townsend (Anthony Hayes). Townsend yang berada di markas meminta persetujuan atasannya, Brigader David Jackson (Richard Roxburgh). David menolak mengingat jumlah pasukan tak imbang.
Markas juga harus diamankan. David malah minta Harry Smith mundur sebisanya. Harry berkukuh. Tersentuh dengan perjuangan Harry, Letnan Frank Riley (Myles Pollard) membangkang.
Ia nekat meminpin penerbangan dua helikopter untuk memasok bantuan senjata lewat udara. Saat tentara Australia makin terdesak, Townsend memutuskan mengerahkan teng perang untuk melawan.
Jangan Harap Objektivitas
Terus terang, kita tak bisa berharap objektivitas dalam film sejarah berlatar perang atau konflik antarnegara. Sebagai contoh, keabsahan fakta di Argo (Ben Affleck, 2012), film terbaik Oscars 2013 pun sempat dipertanyakan. Sejumlah pihak menyebut Argo film kisah nyata cacat sejarah. Ada yang bilang, Iran tidak kecolongan seperti itu.
Wajar, Argo dibuat dari sudut pandang sineas AS yang hendak membuktikan bahwa Hollywood punya kontribusi terhadap negara di masa kritis. Apa pun itu, secara estetika, Argo sebagai film memang ciamik.