Liputan6.com, Bengkulu: Masyarakat pesisir barat Bengkulu memiliki kesenian tradisional yang disebut "ikan-ikan". Sayangnya, kesenian gabungan kreasi membuat model ikan, tari, dan lagu yang mengekspresikan suka duka kehidupan para nelayan ini sempat menghilang dihantam derap tari modern. Posisinya kesenian tradisional ini kembali terangkat setelah menjadi satu jenis perlombaan dalam Festival Tabot yang digelar setiap Muharam.
Kelompok-kelompok nelayan membuat model-model ikan dari bambu yang dibalut kertas. Kemudian dicat menyerupai bentuk dan warna ikan aslinya. Model ikan-ikan ini ditampilkan dalam sebuah pertunjukan tari dan lagu daerah di hadapan warga. Biasanya lirik yang dinyanyikan bertutur tentang gembira sedih nelayan melaut.
Dalam Festival Tabot, kesenian ikan-ikan dilombakan antarkelompok nelayan. Penilaian berdasarkan ukuran, keunikan model yang dibuat, serta kesesuaian tari dan lagu yang dibawakan. Sekadar informasi, Festival Tabot dirayakan tiap 1 hingga 10 Muharam. Kala itu, umat muslim Syiah Bengkulu memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali Abu Thalib. Festival Tabot dilaksanakan sejak ratusan tahun lampau [baca: Melongok Festival Tabot Bengkulu].(TNA/Rishnaldi)
Kelompok-kelompok nelayan membuat model-model ikan dari bambu yang dibalut kertas. Kemudian dicat menyerupai bentuk dan warna ikan aslinya. Model ikan-ikan ini ditampilkan dalam sebuah pertunjukan tari dan lagu daerah di hadapan warga. Biasanya lirik yang dinyanyikan bertutur tentang gembira sedih nelayan melaut.
Dalam Festival Tabot, kesenian ikan-ikan dilombakan antarkelompok nelayan. Penilaian berdasarkan ukuran, keunikan model yang dibuat, serta kesesuaian tari dan lagu yang dibawakan. Sekadar informasi, Festival Tabot dirayakan tiap 1 hingga 10 Muharam. Kala itu, umat muslim Syiah Bengkulu memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Husein bin Ali Abu Thalib. Festival Tabot dilaksanakan sejak ratusan tahun lampau [baca: Melongok Festival Tabot Bengkulu].(TNA/Rishnaldi)