Last Christmas: Isu Aktual Bersanding dengan Pesan Klasik Natal, Hasilnya?

Berkali-kali di-cover musikus lain, Last Christmas tahun ini diusung ke layar lebar.

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 29 November 2019, 15:30 WIB
Berkali-kali di-cover musisi lain, Last Christmas tahun ini diusung ke layar lebar. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Liputan6.com, Jakarta Selamat tinggal Halloween, selamat datang Natal. Per 1 November lalu, lagu Natal mulai menggema dari "Last Christmas" hingga "All I Want For Christmas is You."

Tembang "Last Christmas" yang legendaris ditulis dan diproduksi mendiang George Michael. Dipopulerkan duo musisi Inggris Wham! pada Desember 1984, "Last Christmas" bertengger ke posisi ke-25 di tangga lagu Billboard Hot 100 dan membuka 5 besar di Billboard Holiday 100.

Bahkan di tangga lagu resmi Inggris, lagu ini berada di posisi runner-up. Berkali-kali di-cover musikus lain, "Last Christmas" tahun ini diusung ke layar lebar.

Tak main-main, skenario Last Christmas ditangani Emma Thompson yang meraih Piala Oscar Skenario Adaptasi Terbaik lewat film Sense and Sensebility.


Dari Yugoslavia ke London

Henry Golding dan Emilia Clarke dalam Last Christmas. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Cerita Last Christmas bermula ketika pasangan Ivan (Boris Isakovic) dan Petra (Emma Thompson) pindah dari Yugoslavia ke London. Ivan-Petra membawa kedua putri mereka, yakni Kate (Emilia Clarke) dan Marta (Lydia Leonard). Pindah negara membuat kejiwaan Petra terguncang. Tak tahan dengan kondisi ini, Ivan memilih pisah ranjang. Ia banting setir dari pengacara menjadi pengemudi taksi.

Marta sukses berkarier di sebuah firma. Dua kali naik jabatan, tak serta-merta membuatnya bahagia. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya. Sementara hidup Kate berantakan. Minggat dari rumah, Kate jadi tunawisma. Ia menumpang inap di rumah sejumlah sahabat dan jadi pelayan toko milik Santa (Michelle Yeoh). Kate mengalami krisis identitas.

Suatu siang, ia berpapasan dengan Tom (Henry Golding) di depan toko. Bagi Kate, Tom pria aneh. Hobi menari di jalanan dan melihat ke atas. Kate sebal ketika Tom sering menghilang tanpa kabar. Suatu malam, Tom mengajak Kate berkunjung ke apartemennya. Di sanalah, Kate untuk kali pertama merasa nyaman dan menjadi diri sendiri.

 


Kebahagiaan Universal

Salah satu adegan film Last Christmas. (Foto: Dok. IMDb/ Universal Pictures)

Di tangan Emma, kita bisa berharap naskah Last Christmas tergarap rapi. Tak hanya bicara cinta, Emma ceriwis membahas sejumlah isu aktual lewat sentilan jenaka. Isu keragaman dan imigran disajikan lewat adegan di dalam bus. Penerimaan untuk mereka yang memilih jadi (maaf) LGBT disajikan lewat drama orangtua dan anak.

Lanjut Baca:

Isu-isu ini dikawinkan dengan esensi Natal yang klasik, yakni berbagi kasih. Last Christmas menolak untuk terperangkap dalam kemasan komedi romantis yang berakhir bahagia. Emma memilih kebahagiaan yang bersifat universal. Kebahagiaan untuk semua. Kita melihat rentetan konflik yang serupa benang kusut terurai. Satu per satu masalah rampung lewat komunikasi, pernyataan latar belakang, permintaan maaf, dan berbagi yang jadi sinonim Natal. Karena ini karya Paul Feig, ada banyak selera humor dari yang slapstick hingga kacaunya situasi. Sinematografer John Schwartzman memanfaatkan sudut-sudut kota menjadi sumber hawa romantis. Dari gang tersempit London hingga taman yang dikunjungi orang-orang bermasalah.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya