Film Lampor Keranda Terbang: Horor Eksentrik Dengan Tiga Daya Tarik

Film Lampor Keranda Terbang bukan horor yang hantunya muncul tiap lima menit tanpa alasan jelas.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 09 Oktober 2019, 16:40 WIB
Film Lampor (Instagram/ lamporfilm)

Liputan6.com, Jakarta Film Lampor Keranda Terbang terasa beda dari horor lain karena dilatari beberapa faktor. Pertama, ceritanya berbasis keluarga dan berkutat pada hubungan tiga generasi yakni kakek, anak, dan cucu.

Kedua, Lampor Keranda Terbang mengajak kita ke Temanggung, Kendal, dan beberapa titik di dekat Banyumas, Jawa Tengah. Jarang kita diajak ke sana oleh film Indonesia. Atmosfer horor dibangun dari suasana alam, karakter masyarakat, dan kultur yang kental. Ketiga, sumber masalah Lampor Keranda Terbang. 

Hantu di Lampor Keranda Terbang tak digambarkan sebagai arwah penasaran atau korban kejahatan yang menuntut balas. Lampor Keranda Terbang, legenda masyarakat dalam kemasan percaya enggak percaya.

Anda boleh percaya Lampor Keranda Terbang mengingat ada sejumlah korban yang bersaksi pernah dibawa lalu berhasil menyelamatkan diri. Meski setelah selamat, hidupnya tak sama lagi. Ada pula saksi yang kehilangan anggota keluarga lantaran dibawa Lampor Keranda Terbang dan tak pernah kembali hingga kini.

Lampor Keranda Terbang punya materi kuat, dekat dengan masyarakat khususnya Jawa Tengah. Dekat dengan mereka yang menghabiskan masa kecil di era 1990-an. Dulu anak kecil di Jawa Tengah yang gemar keluyuran lepas magrib (surup) selalu ditakuti dua hal.

Pertama, dibawa pergi lampor yang suaranya nyaring. Kedua, diculik kuntilanak yang bersemayam atau melayang di antara pohon pisang. Artinya, Lampor Keranda Terbang bisa menjadi mesin kenangan dalam konteks penuh kengerian. Bagaimana dengan filmnya?

 

 


Bukan Sekadar Penampakan

Film Lampor (Instagram/ lamporfilm)

Lampor Keranda Terbang mengisahkan Netta (Adinia Wirasti) yang pulang bersama suami, Edwin (Dion Wiyoko) dan kedua anaknya, Adam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie) ke Temanggung. Sekar ingin menyampaikan pesan almarhumah ibunda, Ratna (Unique Priscilla) kepada ayahnya, Jamal (Mathias Muchus).

Ratna dan Jamal cerai setelah anak kedua mereka tewas dibawa Lampor pada suatu malam. Jamal yang menimba ilmu hitam dari Pak Atmo (Landung Simatupang) dikutuk tak bisa punya anak. Ia menikahi Asti (Nova Eliza). Pasangan ini jadi pengusaha tembakau dan hidup mapan.

Lanjut Baca:

Saat Netta pulang, Jamal meninggal. Seluruh penduduk menuding kembalinya Netta adalah sumber teror. Belakangan, Lampor kembali datang dan menggondol sejumlah warga. Orang-orang menilai Netta seharusnya dibawa Lampor, tapi ia berhasil menyelamatkan diri. Belakangan Netta sadar, keluarga ayahnya tak beres. Ia mencium aroma skandal antara Asti dengan karyawannya, Bima (Dian Sidik). Netta juga waswas karena Sekar mengaku sering bertemu arwah Jamal. Konflik mencapai puncak saat Adam hilang dibawa Lampor. Alur cerita Lampor Keranda Terbang mengingatkan kita pada Kafir Bersekutu dengan Setan atau Pengabdi Setan. Ketegangan dibangun bukan semata dari penampakan hantu, melainkan atmosfer dan motivasi para tokoh pendukungnya. Motivasi terselubung memicu kecurigaan. Kecurigaan yang dibiarkan menggenang memantik efek tak tenang dan tak nyaman. Kita dibuat bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi di keluarga sang tokoh utama. Inilah yang disajikan Lampor selama lebih dari 1,5 jam. Kecurigaan dan rentetan tanda tanya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya