Selain PSM Vs Persija, Ini 6 Kasus Pertandingan Batal di Indonesia

Kasus pertandingan batal di Indonesia sudah sering terjadi tidak hanya duel PSM vs Persija.

oleh Ario YosiaDiterbitkan 30 Juli 2019, 14:10 WIB
Final Piala Indonesia: PSM Makassar vs Persija Jakarta. (Bola.com/Dody Iryawan)

Jakarta Drama menguras emosi bak sinetron lagi-lagi di perhelatan sepak bola Tanah Air. PSSI memutuskan laga final leg kedua Piala Indonesia PSM Makassar Vs Persija Jakarta di Stadion Andi Mattalatta, Mattoanging, Makassar, pada Minggu (28/7/2019) diundur.

Pertemuan kedua tim terpaksa ditunda PSSI karena bus Persija Jakarta diserang oleh oknum di stadion sehari sebelum laga. Pihak-pihak terkait sudah berusaha mencoba melobi tim Persija untuk tetap bertanding, namun gagal. 

PSSI belakangan juga memutuskan final leg kedua antara PSM vs Persija dijadwal ulang pada 6 Agustus 2019. Lokasi pertandingan ini ditetapkan di Stadion Andi Mattalatta.

Kepastian ini tertuang lewat surat PSSI yang ditandatangani Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria pada 29 Juli 2019. Surat ini ditujukan kepada manajemen klub PSM Makassar dan Persija Jakarta.

"Bersama ini disampaikan penetapan jadwal pertandingan final Piala Indonesia 2018/2019 leg kedua antara PSM melawan Persija Jakarta akan digelar pada 6 Agustus," demikian bunyi surat tersebut.

"Selanjutnya dimohon kepada Manajemen Klub PSM Makassar selaku tuan rumah penyelenggara pertandingan dapat mempersiapkan segala sesuatu terkait persiapan dan pelaksanaan pertandingan tersebut. Demikian hal ini disampaikan, atas perhatiannya diucapkan terima kasih," kata Tisha.

Kasus penundaan ini menambah daftar hitam di perhelatan sepak bola nasional. Seringkali sebuah pertandingan batal digelar secara mendadak karena kasus kerusuhan suporter dan faktor-faktor nonteknis yang memanaskan tensi persaingan.

Bola.com merangkum enam kasus batal bertanding di Indonesia. Apa-apa saja dan apa dampaknya?


Persebaya di Liga Indonesia 2005

Logo Persebaya Surabaya. (Bola.com/Dody Iryawan)

Persebaya Surabaya menggemparkan sepak bola nasional saat memutuskan Walk Out ketika bersua Persija di babak 8 besar Liga Indonesia 2005 pada 21 September 2005. Manajer Tim Bajul Ijo, H. Susanto (almarhum), jadi aktor utama di balik kasus balik badan tim yang kala itu berstatus sebagai juara bertahan kompetisi kasta elite.

Saat itu, Persebaya menempati urutan buncit Grup Barat, dengan hasil sekali imbang 2-2 (vs PSM) sekali kalah 0-1 (vs PSIS). Peluang Cristian Carrasco dkk. lolos ke partai puncak amat tipis.

Lanjut Baca:

Kubu Persebaya yang diarsiteki Jacksen F. Tiago melempar isu bila ada skenario memunculkan Persija, yang bertindak sebagai tuan rumah, sebagai juara kompetisi. Menjelang pertandingan antara Persebaya vs Persija, situasi memanas. Gesekan antarkelompok suporter pendukung Persebaya, Bonek Mania dengan fans Persija, The Jakmania, terjadi di area Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Pihak Bajul Ijo merasa suporter mereka kurang mendapat pengamanan dari pihak kepolisian. Selain bentrok dengan The Jakmania, Bonek Mania juga terlibat perseteruan dengan ormas yang menghalang-halangi kedatangan suporter dari Surabaya ke Jakarta. Sehari sebelum laga, di Surabaya, Ketua Umum Persebaya sekaligus Wali Kota Surabaya, Bambang D.H., mengumumkan pengunduran diri Bajul Ijo. H. Santo menambah gempar suasana saat menitipkan Piala Presiden ke PSSI Pers untuk diserahkan ke PSSI. Keputusan Persebaya WO disesalkan PSM Makassar. Peluang mereka melenggang ke final tertutup. Apapun hasil pertandingan PSM dan PSIS, tidak memengaruhi posisi Persija sebagai pemuncak klasemen babak perempat final wilayah barat. Macan Kemayoran melaju tanpa hambatan ke partai final setelah menikmati kemenangan gratis 3-0. Pada kenyataannya Persija tidak menjadi juara Liga Indonesia, setelah kalah 2-3 dari Persipura. Komite Displin PSSI pun langsung bereaksi atas ulah Persebaya yang melanggar fair play. PSSI langsung menjatuhkan sanksi berupa larangan mengikuti kompetisi liga nonamatir di lingkungan PSSI selama dua tahun berturut-turut serta denda sebesar Rp 25 juta kepada Persebaya. Setelah melalui banding, hukuman ini lalu dikurangi menjadi 16 bulan dan degradasi ke Divisi Satu. Pada musim yang sama juga terjadi insiden mogok bertanding yang dilakukan Arema Indonesia di final Piala Indonesia. Tim Singo Edan saat itu menggugat kinerja wasit yang mereka nilai cenderung memihak Persija. Hanya, setelah ditenangkan pengurus PSSI, Arema yang saat itu dilatih Benny Dollo bersedia melanjutkan pertandingan. Pada akhirnya Arema keluar sebagai juara setelah memenangi pertandingan dengan skor 4-3.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya