Kisah Abro Fernandes, Petarung MMA Tangguh Tulang Punggung Keluarga

Abro mendirikan toko olahraga untuk memperkenalkan MMA kepada warga kampung halamannya. Saat kecil, Abro sudah menggemari bela diri dan terinspirasi oleh idolanya Bruce Lee.

oleh Achmad Yani YustiawanDiterbitkan 09 Juli 2019, 18:45 WIB
Abro Fernandes siap menggebrak di ONE Championship Malaysia 12 Juli mendatang (dok: One Championship)

Liputan6.com, Jakarta Atlet mixed martial arts (MMA) Indonesia, Abro “The Black Komodo” Fernandes, akan berhadapan dengan bintang India Gurdarshan “Saint Lion” Mangat, pada ajang ONE: Masters of Destiny. Ajang ini akan digelar di Axiata Arena di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat 12 Juli 2019 nanti.

Kemenangan Abro atas Mangat pada ajang ini, akan menasbihkan petarung kebanggan Indonesia ini sebagai pesaing kuat di kelas flyweight. Ia akan menambah catatan rekornya menjadi delapan kemenangan dari sembilan laga MMA profesional yang dijalaninya.

Tetapi, hal ini lebih dari sekadar angka bagi Abro, yang merupakan tulang punggung keluarga dengan jumlah anggota tak kurang dari 13 orang. Kemenangan itu akan mendekatkan dirinya untuk meraih mimpinya menjadi juara dunia.

Atlet berusia 29 tahun ini juga bertekad mempersembahkan gelar ini demi mengangkat derajat dan ekonomi keluarganya. Abro adalah anak pertama dari sembilan bersaudara.

Orang tua Abro merupakan pasangan sederhana yang menggantungkan hidup dari bertani di Luro, Timor Leste.

Sebagai anak tertua, Abro ingin memberi akses pendidikan yang luas bagi adik-adiknya dan sebagai bentuk rasa terimakasih pada orang tua yang telah banyak berkorban demi perjalanan karirnya sebagai atlet MMA.


Keluarga Sederhana

Abro Fernandes siap tempur di ONE Championship Malaysia (dok: ONE Championship)

Lahir di sebuah komunitas kecil, dimana mayoritas warganya bekerja sebagai petani, Abro bertumbuh dengan ekonomi yang cukup untuk kehidupan sehari-hari.

“Kami merupakan keluarga sederhana. Orang tua saya adalah petani beras dan jagung,” ujarnya. “Penghasilan orang tua hanya cukup untuk [kehidupan] sehari-sehari, karena kami di kampung tidak banyak kebutuhan, maka segala sesuatunya dicukupkan.”

Saat kecil, Abro sudah menggemari bela diri dan terinspirasi oleh idolanya Bruce Lee. Ia mulai belajar silat dan kempo saat ia berusia 10 tahun dan bertanding dalam sebuah turnamen di Dili, Timor Leste. Saat itu, Abro juga getol mempelajari tinju dan gulat, yang ternyata menjadi modal kuat dalam transisinya menjadi atlet MMA.

Abro pun merantau dari kampung halaman menuju Solo di Jawa Tengah pada tahun 2011 demi memperdalam teknik beladirinya. Disini, ia terdaftar di Universitas Tunas Pembangunan dan mengambil jurusan olah raga.

Lanjut Baca:

“Sebelumnya [warga Timor Leste] tahunya tinju saja. Atlet MMA belum ada. Jadi saya pergi ke Solo berlatih MMA,” tutur Abro. “Orang tua saya mengorbankan semua yang mereka miliki untuk membekali saya dan membelikan tiket pesawat. Saya sadar bahwa orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya