Pemerintah Percepat Pembangunan 4 Destinasi Wisata Indonesia

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait dengan percepatan pembangunan sektor pariwisata Indonesia

oleh Liputan6.comDiterbitkan 02 Juli 2019, 19:53 WIB
Foto udara yang diambil 4 April 2019 ini menunjukkan Danau Toba dari kawasan Sigapitan, Sumatera Utara. Danau terbesar di Asia Tenggara yang dikelilingi tujuh kabupaten di Sumatera Utara tersebut luasnya hampir dua kali ukuran Negara Singapura. (GOH CHAI HIN / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan menggelar rapat koordinasi (rakor) terkait dengan percepatan pembangunan sektor pariwisata Indonesia di Kantornya, Jakarta. Hadir dalam rapat ini, yaitu Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Ditemui usai rapat, Menko Luhut mengatakan Presiden Joko Widodo meminta agar empat prioritas destinasi bali baru segera dipercepat pembangunannya. Mulai dari sumber daya manusianya (SDM), masalah kebersihan, kerajinan, hingga upaya-upaya dalam melakukan promosi wisata tersebut.

"Tadi Presiden minta supaya 4 destinasi itu dipercepat prosesnya itu Danau Toba, Borobudur Mandalika, dan Labuan Bajo," katanya saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Selasa (2/7/2019).

Sejauh ini, Menko Luhut mengatakan progres dari pembangunan dan pengembangan 4 wilayah destinasi bali baru tersebut sudah cukup baik. Hanya saja ada beberapa yang mesti diperbaiki agar tiga tahun yang akan datang dapat menarik wisatawan asing masuk.

"Jadi sekarang itu kita semua pengen percepat dan bagus. Tadi saya ajak Ibu Mari Elka Pangestu karena beliau mantan Menteri Pariwisata, apa yang dibuat dia dulu ternyata lengkap sekali, tinggal kita lengkapi dengan Pak Menteri Pariwisata (Arief Yahya) kita duduk gimana," jelasnya.

"Dengan beberapa temen-temen menteri kita sudah ketemu gambarannya ketemu masalahnya tinggal nanti kita rapat tanggal 10, kita bedah lagi," sambungnya.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Pemerintah Targetkan 20 Juta Kunjungan Wisman

Turis menikmati permainan Parasailing di pantai Nusa Dua Bali, Rabu (10/10). Penyelenggaraan IMF - Bank Dunia Bali 2018 diharapkan dapat memberi imbas lebih baik di Indonesia khususnya sektor pariwisata. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Seperti diketahui, Pemerintah Jokowi-JK menargetkan sebanyak 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahu ini. Namun, terpenting kata Menko Luhut adalah bukan dari jumlahnya saja, akan tetapi bagaimana kualitas pariwisata yang ditampilkan di Indonesia. "Sekarang bukan hanya jumlah saja, tapi kualitas," imbuhnya.

Di sisi lain, hal yang perlu didorong dalam menarik kunjungan wisatawan asing adalah bagaimana melakukan promosi secara digital. Sebab, ada beberapa kawasan yang masih tidak terekam kemunculanya di mesin pencarian atau google.

"Tadi kita cek kemunculan contoh Danau Toba itu orang tidak bisa dapet google dengan baik. Apasih yang bisa disiapkan di sana, misalnya di mana tempat selfie yang bagus sederhana gitu, kemudian mana saja sih tujuan wisata di Danau Toba itu belum tergambarkan dari apa yang kita google di lapangan," katanya.

Kehadiran Maskapai Asing Bakal Dongkrak Pariwisata Indonesia

Pesawat maskapai Lion Air terparkir di areal Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Kamis (16/5/2019). Pemerintah akhirnya menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat atau angkutan udara sebesar 12-16 persen yang berlaku mulai Kamis hari ini. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ketua Umum Kamar Dagang dan lndustri (Kadin) Indonesia, Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa salah satu sektor yang bakal didongkrak dengan kehadiran maskapai asing adalah sektor pariwisata. Karena itu, dia memandang positif rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangkan maskapai asing.

"Pemerintah kita dan sedang mendorong pariwisata, dan kita kan tahu, ke depan pendapatan terbesar Indonesia itu dari turisme," kata Rosan, saat ditemui, di kediamannya, Jakarta, Kamis (6/6/2019).

"Kalau asing masuk ya pasti akan banyak melihat potensi 265 juta orang, dan yang traveling itu kan sangat banyak, jadi itu positif buat saya," sambung dia.

Terkait maskapai yang bakal masuk, lanjut Rosan, dia mengharapkan agar masyarakat tidak perlu terlalu meributkan negara asal maskapai asing tersebut. Yang terpenting adalah manfaat yang akan ditimbulkan bagi perekonomian Indonesia.

"Kita mestinya jangan melihat itu dari negara mananya, oh dari China, oh dari mana. Jangan. Yang penting semuanya bisa membawa asas manfaat terbesar bagi Indonesia. Itu saja," tegas Rosan.

"Menurut saya sih jangan dilihat dari mananya, yang penting faktor bisa terciptanya kompetisinya, dan juga keselamatan jadi prioritas utama," imbuhnya.

Dia menambahkan, sebetulnya sudah ada maskapai yang beroperasi di Indonesia selain Garuda Grup maupun Lion Air Group, yakni Air Asia. Sayangnya, pangsa pasar Air Asia masih tergolong kecil.

"Sebetulnya semua sudah ada juga seperti Air Asia, sudah ada. Saya rasa kalau yang banyak masuk airline lebih baguslah makin bisa masyarakat makin bisa afford," tandas dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya