Liputan6.com, Jakarta Tujuh tahun berlalu sejak Men in Black 3 dibuat, kali ini Men in Black International kembali ke bioskop. Bedanya, Men in Black International hadir tanpa Agen J (Will Smith) dan Agen K (Tommy Lee Jones). Keduanya telah menjadi legenda dan regenerasi di organisasi Men in Black tak terhindarkan.
Dalam Men in Black International, para agen berjas hitam dipimpin Agen High T (Liam Neeson). Ia memiliki tangan kanan yakni Agen H (Chris Hemsworth).
Advertisement
Cerita Men in Black International dimulai dengan perekrutan Agen M (Tessa Thompson) oleh Agen O (Emma Thompson). Hasil tes menunjukkan M punya kompetensi tinggi. Agen M kemudian dipercaya mendampingi Agen H untuk menghadiri pesta para alien yang digelar salah satu anggota Kerajaan Jababia, Vungus (Kayvan Novak).
Tak disangka, dua di antara ratusan tamu yang tengah berdansa adalah alien kembar (Lauren dan Larry). Mereka menembakkan sinar hijau yang membuat Vungus tewas dalam hitungan menit.
Sebelum mangkat, Vungus sempat memberikan kristal hitam kepada Agen M. Insiden kematian Vungus membuat pihak Kerajaan Jajabia murka. Mereka menuntut Agen High T menyerahkan kepala H dan M.
Belakangan diketahui, kristal hitam itu bisa berubah menjadi senjata pemusnah massal. Banyak pihak memburu senjata ini, termasuk Riza (Rebecca Ferguson) pedagang senjata kelas atas yang dulu menjalin cinta dengam Agen H. Di sisi lain, Agen M meyakini ada mata-mata di organisasi Men in Black.
Chemistry Tessa Thompson - Chris Hemsworth
Harus diakui, kehadiran Chris dan Tessa bentuk penyegaran. Chris berpotensi mendongkrak popularitas waralaba Men in Black setelah hampir sewindu absen. Tessa yang dikenal publik lewat karakter Valkyrie di Thor Ragnarok dan Avengers: Endgame, membuat Men in Black yang selama ini terkesan maskulin terasa lebih luwes. Men in Black International beberapa kali menipu penonton dengan membuat sejumlah adegan seolah film akan selesai. Lalu, misteri lain terkuak dan memantik konflik baru.
Teknik ini kerap digunakan film-film spionase. Tidak mengejutkan lagi, namun bisa tetap terasa asyik andai plotnya dibuat lebih rapat, ritme dipercepat, dan konflik dibuat lebih genting. Ini mengingat Men in Black International bicara soal penyelamatan dunia dengan Menara Eiffel sebagai pintu gerbangnya. Selain itu, London dan New York dijadikan dua poros kekuatan. Di banyak titik, alur film ini membuat penonton seperti diseret-seret.