Legenda Goa Kreo Bikin Lebaran di Semarang Makin Meriah

Kota Semarang menyajikan kekayaan budaya dalam Lebaran tahun ini. Ada Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Goa Kreo, Minggu (9/6).

oleh Reza diperbarui 11 Jun 2019, 18:24 WIB
Kota Semarang menyajikan kekayaan budaya dalam Lebaran tahun ini. Ada Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Goa Kreo, Minggu (9/6).
Liputan6.com, Jakarta Kota Semarang menyajikan kekayaan budaya dalam Lebaran tahun ini. Ada Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Goa Kreo, Minggu (9/6). Dua agenda tersebut menguatkan status Semarang sebagai 'Full History Storytelling' pengembangan Heritage Tourism.
 
Tradisi Budaya Sesaji Rewanda digelar di Pelataran Goa Kreo mulai pukul 08.00 WIB. Parade budaya lalu dilanjutkan Mahakarya Legenda Goa Kreo di Plaza Kandri Waduk Jatibarang mulai pukul 19.00 WIB. 
 
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Indriyasari mengatakan, respons wisatawan sangat positif.
 
Event ini sangat meriah. Antusiasme yang ditunjukan publik luar biasa. Mereka sangat menikmati beragam konten yang disajikan. Kami yakin, kesan positif ini akan menjadi branding yang luar biasa bagi pariwisata Semarang. Pergerakan wisatawan akans emakin positif sepanjang tahun ini,” kata Indriyasari.
 
Ada pesan khusus yang diusung dalam kegiatan ini. Publik diingatkan tentang potensi besar wisata sejarah dan warisan budaya milik Kota Lumpia. Konsepnya melalui seni drama, suara, musik, dekoratif, tarian, dan napaktilas. Napaktilasnya dilakukan di Watu Tenger, yaitu Petilasan Sunan Kalijaga. Ada juga atraksi kirab Soko Jati dan sesaji pada kera.
 
“Semarang ini kaya dengan history dan nilai-nilai budaya. Semua luar biasa dan sangat menginspirasi. Kekuatan inilah yang kami kemas dan dihidupkan kembali. Bagaimanapun, semua sudah tahu kalau Goa Kreo memiliki history besar. Ada kekuatan sejarah dan religi di situ,” kata Indriyasari lagi.
 
Goa Kreo memiliki legenda yang terus hidup. Sebab, destinasi ini menjadi petilasan 4 sunan. Ada Sunan Kalijaga, Ampel, Bonang, dan Gunungjati. Cerita pun dikembangkan. Pada awal pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga mencari kayu untuk dijadikan saka guru atau tiang utama. Namun, ada pohon yang tidak bisa ditebang. Sunan Kalijaga pun bersemedi dalam goa.
 
Ketika bersemedi itulah, ada 4 ekor kera yang menghampirinya. Uniknya warna kera-kera itu berbeda-beda. Ada kera dengan warna hitam, putih, merah, dan kuning. Dari komposisi tersebut, tersirat makna. Hitam menjadi simbol kesuburan tanah, lalu putih melambangkan kesucian. Adapun warna merah jadi makna keberanian dan kuning yang berarti angin.
 
“Semarang menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Kota Semarang menawarkan banyak aktivitas dan experience. Semuanya menjadi daya tarik yang luar biasa, seperti Goa Kreo ini. Destinasi Goa Kreo sangatlah unik dengan beragam cerita yang menyertainya,” terang Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Adella Raung.
 
Cerita Goa Kreo pun berlanjut. Kawanan kera itu lalu mengajak Sunan Kalijaga ke sebuah tempat. Setelah bermunajad, ilham pun datang. Pohon tersebut bisa ditebang dengan menggunakan selendang yang dibawanya. Usai menebang pohon, Sunan Kalijaga pun berencana kembali ke Demak. Namun, kera tersebut meminta ikut. Sang sunan pun akhirnya meminta kera menjaga Goa Kreo tersebut.
 
Seiring waktu, masyarakat percaya bahwa kera-kera di kawasan Goa Kreo memiliki keterikatan sejarah. Mereka adalah keturunan 4 kera yang membantu Sunan Kalijaga. Demi melestarikan budaya di sana, maka setiap tahun diadakan pagelaran Mahakarya Legenda Goa Kreo. Harapannya tradisi dan budaya yang ada tetap terjaga.
 
“Event-event dan Goa Kreo jadi paket menarik. Wisatawan bisa menikmati destinasi ini dari berbagai sisi. Alam dan budaya di sana memang sama-sama eksotis. Dengan komposisi seperti ini, destinasi ini selalu menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah besar,” tegas Kepala Bidang Pemasaran Area I Jawa Kemenpar Wawan Gunawan.
 
Momentum libur Lebaran di Semarang pun semakin lengkap. Sebab, destinasi ini memiliki banyak desa wisata di kawasan Gunungpati. Desa wisata tersebut terkenal dengan beragam keseniannya, seperti tari rakyat. Desa wisata yang juga wajib dikunjungi diantaranya, Kandri, Nongkosawit, Wonolopo, Jatirejo, Cepoko, juga Jamalsari. Mereka juga terlibat aktif dalam 2 event Lebaran di Semarang tersebut.
 
“Semangat yang diusung Semarang untuk memajukan pariwisatanya harus diapresiasi. Mereka terus menawarkan konten terbaik. Tradisi Budaya Sesaji Rewanda dan Mahakarya Legenda Goa Kreo adalah daya tarik luar biasa. Ke depannya, inovasi harus terus dijalankan. Branding juga dikuatkan agar arus wisatawan semakin optimal,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik Asia Pasifik tersebut.
 
(*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya