5 Pelajaran yang Bisa Dipetik Usai Liverpool Juara Liga Champions

Jurgen Klopp jadi sosok yang paling berbahagia dengan kesuksesan Liverpool menjadi juara Liga Champions musim 2018-2019.

oleh Ario YosiaDiterbitkan 04 Juni 2019, 19:00 WIB
Pemain Liverpool, Alex Oxlade-Chamberlain dan Rhian Brewster mengangkat trofi juara Liga Champions 2019 usai menaklukkan Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6). Liverpool menang 2-0 atas Tottenham Hotspur. (AP/Bernat Armangue)

Jakarta Liverpool berhasil menjadi juara Liga Champions setelah mematahkan perlawanan Tottenham Hotspur di Wanda Metropolitano Stadium, Madrid, Minggu 2 Juni 2019 lalu.

Penutup musim yang manis bagi The Reds yang baru saja dilanda kekecewaan karena gagal jadi kampiun Liga Inggris.

Jurgen Klopp jadi sosok yang paling berbahagia dengan kesuksesan Liverpool menjadi juara Liga Champions musim 2018-2019. Ia mengakhiri kutukan selalu kalah di final sejak tahun 2014.

Gol kemenangan Liverpool atas Tottenham Hotspur dicetak Mohamed Salah lewat titik penalti pada menit kedua serta Divock Origi pada menit ke-87.

Total sepanjang karier kepelatihannya, ia tujuh kali meloloskan klubnya ke final, dan hanya sekali sukses merengkuh trofi, yakni di Piala Jerman 2012. Sisanya ia selalu gagal.

Yang paling menyakitkan tentu di ajang Liga Champions, dua kali pelatih asal Jerman ini tertunduk lesu.

Pada 2013 saat membesut Borussia Dortmund, Klopp harus mengakui keunggulan Bayern Munchen dengan skor 2-0. Musim lalu di Liverpool digasak Real Madrid 1-3.

Jurgen Klopp dua kali merana bersama Liverpool di pentas Eropa. Musim 2016, The Reds kalah 1-3 melawan Sevilla.

Akhir pekan ini Jurgen Klopp berhasil merubah keberuntungannya. Liverpool jadi juara Liga Champions. Persembahan Klopp jadi yang ke-6 setelah musim 1976–1977, 1977–1978, 1980–1981, 1983–1984, 2004–2005. Yang spesial ini jadi gelar pertama bagi sang mentor sejak mendarat tiga musim lalu di Anfield.

Kesimpulan apa saja yang bisa dipetik usai laga final Liga Champions antara Liverpool kontra Tottenham Hotspur?

 


Blunder Strategi Pochettino

Harry Kane gagal membawa Tottenham Hotspur merengkuh trofi Liga Champions musim ini. Tottenham kalah 0-2 dari Liverpool dalam laga final di Estadio Wanda Metropolitano, Sabtu (1/6/2019). (AFP/Paul Ellis)

Sebelum pertandingan berlangsung, terdapat banyak diskusi mengenai apakah Mauricio Pochettino selaku manajer Tottenham Hotspur perlu menurunkan Harry Kane yang baru pulih dari cedera atau Lucas Moura yang berperan penting dalam perjalanan timnya sepanjang kompetisi Champions League.

Pochettino terkena pengaruh emosi ketika memilih untuk menurunkan Kane, yang sudah menjadi pemain andalannya dalam beberapa musim terakhir. Keputusan itu berakibat fatal, penyerang asal Inggris itu tidak dapat menunjukkan performa terbaiknya dan tidak dapat melewati hadangan dari Virgil van Dijk dan Joel Matip sepanjang berlangsungnya pertandingan.

Lanjut Baca:

Selain Harry Kane yang tampil mengecewakan dalam pertandingan pertamanya sejak pulih dari cedera, pemain-pemain bintang lain dari Tottenham Hotspur juga menunjukkan performa yang tidak memuaskan meskipun mereka telah diandalkan sepanjang musim. Christian Eriksen seringkali gagal memberikan umpan matang, Dele Alli melanjutkan performa buruk yang ditunjukkannya sepanjang musim, Kieran Trippier kembali menjadi pemain yang diincar karena dianggap menjadi titik lemah, dan Harry Winks yang juga baru pulih dari cedera seharusnya tidak diturunkan sejak awal pertandingan. Hanya Heung Min-Son, Hugo Lloris, Jan Vertonghen, dan Danny Rose dari Spurs yang dapat dianggap telah menunjukkan performa terbaik mereka dalam pertandingan ini.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya