Liputan6.com, Jakarta: Gerakan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie mempercepat rapat pimpinan nasional dinilai karena tidak ingin terlambat dalam mengkonsolidasi partai untuk pencalonan presiden.
"Itu pilihan rasional politik sebab pemilu 2014 sudah mendekat, kalau tidak memastikan konsolidasi dirinya parti terlambat," kata pengamat Politik Universitas Gadjah Mada Hasrul Hanif, Jumat (20/4).
Ia mengatakan, pengalaman 2004 dan 2009 menunjukan, Golkar terlambat mengkonsolidasi partai guna mengusung calon presiden. Akibatnya, di kedua pemilu tesebut, calon presiden yang diusung Golkar tertinggal jauh dalam pemilihan suara.
Namun demikian, menurut dia, konsolidasi dukungan dari partai seharusnya tidak memaksakan diri dari atas ke bawah (top down), namun juga mengusahakan agar dukungan tersebut dapat diperoleh dari bawah.
"Apalagi Golkar ini memiliki banyak faksi-faksi politik yang seringkali bermain sendiri," katanya. Untuk itu, menurut dia, konsolidasi dukungan agar Ical dicalonkan menjadi presiden oleh arus bawah menjadi penting.
Ia menambahkan, konvensi yang pernah diterapkan dahulu bisa jadi salah satu pilihan untuk mengkonsolidasi dukungan. Menurut dia, pengalaman konvensi Golkar 2004 terlalu dekat dengan pemilu, hal ini membuat calonnya sulit untuk berkembang.
Sedangkan pada 2009, Golkar tidak mengadakan konvensi dan mengajukan Jusuf Kalla-Wiranto sebagai calon presiden dan wakil presiden. Ia menambahkan, calon presiden jauh-jauh hari akan menjadikan pelajaran politik berharga bagi masyarakat.(ANT/JUM)
"Itu pilihan rasional politik sebab pemilu 2014 sudah mendekat, kalau tidak memastikan konsolidasi dirinya parti terlambat," kata pengamat Politik Universitas Gadjah Mada Hasrul Hanif, Jumat (20/4).
Ia mengatakan, pengalaman 2004 dan 2009 menunjukan, Golkar terlambat mengkonsolidasi partai guna mengusung calon presiden. Akibatnya, di kedua pemilu tesebut, calon presiden yang diusung Golkar tertinggal jauh dalam pemilihan suara.
Namun demikian, menurut dia, konsolidasi dukungan dari partai seharusnya tidak memaksakan diri dari atas ke bawah (top down), namun juga mengusahakan agar dukungan tersebut dapat diperoleh dari bawah.
"Apalagi Golkar ini memiliki banyak faksi-faksi politik yang seringkali bermain sendiri," katanya. Untuk itu, menurut dia, konsolidasi dukungan agar Ical dicalonkan menjadi presiden oleh arus bawah menjadi penting.
Ia menambahkan, konvensi yang pernah diterapkan dahulu bisa jadi salah satu pilihan untuk mengkonsolidasi dukungan. Menurut dia, pengalaman konvensi Golkar 2004 terlalu dekat dengan pemilu, hal ini membuat calonnya sulit untuk berkembang.
Sedangkan pada 2009, Golkar tidak mengadakan konvensi dan mengajukan Jusuf Kalla-Wiranto sebagai calon presiden dan wakil presiden. Ia menambahkan, calon presiden jauh-jauh hari akan menjadikan pelajaran politik berharga bagi masyarakat.(ANT/JUM)