Diusir dari Malaysia, Diperas di Tanah Air

Setelah hengkang dari Malaysia para TKI ilegal kerap diperas para preman setiba di Tanah Air. Pemerasan juga dilakukan anggota Satpol di dermaga Dumai.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Agustus 2002, 20:50 WIB
Liputan6.com, Dumai: Nasib tenaga kerja Indonesia ilegal yang diusir dari Malaysia bak keluar dari sarang harimau masuk ke mulut buaya. Setiba di Dumai, Riau, baru-baru ini, mereka terpaksa pindah ke Wisma Transit di Batam. Mereka tak tahan diperas para preman di Dermaga Dumai.

Modus pemerasan itu adalah memaksa para TKI menggunakan jasa mereka dengan imbalan mencapai 50 ringgit, sekitar Rp 125 ribu. Bila tidak ditanggapi, preman yang berkedok calo itu tidak segan-segan mengancam. Bahkan, beberapa TKI mengaku sempat bersitegang dengan mereka.

Thomas, misalnya, TKI asal Flores ini mengaku kecewa dengan sikap Pemerintah Kabupaten Dumai yang tidak memberikan rasa aman. Itulah sebabnya, seperti rekan-rekannya, Thomas memutuskan untuk menyeberang ke Batam.

Celakanya, berharap mendapat perlakuan lebih baik, keadaan di Wisma Transit Sekupang, Batam, pun tak jauh berbeda. Para TKI kembali menjadi sapi perah sejumlah anggota satuan polisi di dermaga dengan dalih pengurusan tiket berangkat dan konsumsi.

Tak cuma diperas, para TKI ilegal juga harus menghadapi para penjaja penukaran uang liar. Selain mematok nilai tukar yang rendah, mereka juga kerap memaksa dan kasar kepada para TKI [baca: Pemulangan TKI Diperpanjang 15 Agustus].

Nasib serupa menimpa 6.000 TKI ilegal yang mendarat di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara, kemarin siang. Bahkan, sesampainya di Pelabuhan Tanjungpriok, para TKI yang sebagian besar berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur itu juga masih harus berhadapan dengan calo tiket bus.

Menyikapi hal ini, Kepala Dinas Kependudukan Pemerintah Kota Batam Said Hasyim berjanji akan menindaklanjuti keluhan para TKI. Pihaknya juga tak akan segan memecat anggota Satpol yang terbukti memeras. Apalagi, Said menambahkan, meski para Satpol yang bertugas di sejumlah pintu masuk di Batam masih berstatus honorer, mereka digaji Rp 800 ribu per bulan.(ZAQ/Erwan Buntaro dan Aloysius Aran)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya