Liputan6.com, Jakarta: Tergiur upah demonstrasi Rp 30 ribu, sekitar ribuan orang yang bekerja sebagai kuli panggul, buruh tani dan tukang ojek, rela menginap di Gedung DPR/MPR Jakarta. Mereka bertekad bertahan di gedung rakyat tersebut sejak awal pekan ini. Tujuan mereka menginap adalah berunjuk rasa menuntut mundurnya Presiden Abdurrahman Wahid.
Para pengunjuk rasa bayaran itu berasal dari Banten, Lampung, dan Tangerang. Secara terus terang, dengan menumpangi bus, mereka mengaku berangkat dari daerah masing-masing setelah menerima uang muka Rp 5-10 ribu. Sedianya, kata mereka, sisa pembayaran akan diberikan jika tugas demo telah diselesaikan.
Menjadi demonstran bayaran bukan tak diwarnai suka duka. Salah seorang pengujuk rasa mengutarakan, koordinator mereka sering telat memberi makan dan membayar upah. Kendati demikian, tawaran menggiurkan ini tetap mereka terima. Maklum, bayaran yang mereka peroleh lebih besar ketimbang hasil kerja di kampung halaman. Apalagi, kalau waktu demo diperpanjang, upah yang mereka terima bisa banyak. Maka, wajar saja bila kini mereka rela tak tidur di rumah sendiri, tapi di rumah rakyat.(RSB/Yuke Mayaratih dan Budi Sukmadianto)
Para pengunjuk rasa bayaran itu berasal dari Banten, Lampung, dan Tangerang. Secara terus terang, dengan menumpangi bus, mereka mengaku berangkat dari daerah masing-masing setelah menerima uang muka Rp 5-10 ribu. Sedianya, kata mereka, sisa pembayaran akan diberikan jika tugas demo telah diselesaikan.
Menjadi demonstran bayaran bukan tak diwarnai suka duka. Salah seorang pengujuk rasa mengutarakan, koordinator mereka sering telat memberi makan dan membayar upah. Kendati demikian, tawaran menggiurkan ini tetap mereka terima. Maklum, bayaran yang mereka peroleh lebih besar ketimbang hasil kerja di kampung halaman. Apalagi, kalau waktu demo diperpanjang, upah yang mereka terima bisa banyak. Maka, wajar saja bila kini mereka rela tak tidur di rumah sendiri, tapi di rumah rakyat.(RSB/Yuke Mayaratih dan Budi Sukmadianto)