Jakarta - Saat menjadi penonton, banyak ekspektasi yang berkeliaran di kepala. Pertandingan seru, sajian hebat dari atas panggung, dukungan ornamen entertainment sampai interaksi. Tak banyak yang bisa sepadu-sejalan seperti itu, kecuali PMSC 2018.
Pemberitahuan itu tergolong mendadak. Namun, berbekal 'kapanlagi kalau bukan sekarang', visa selesai dalam rentang sangat singkat; 24 jam. Ragam cara dilakukan, dan akhirnya membuat saya bisa terbang ke Dubai.
Advertisement
Menghadiri undangan syeikh, petinggi pemerintahan, pengusaha atau crazy rich-nya Dubai?. Tentu bukan. Misinya sangat sederhana, yakni menonton orang 'berperang', tapi bukan di dunia nyata, melainkan di arena digital.
Yup, perhelatan PlayerUnknown's Battlegrounds Mobile Star Challenge (PMSC) 2018 di Dubai menjadi sajian istimewa bagi para pecinta e-Sports jenis FPS tersebut. Magnet di sana sangat besar. Bukan sekadar landsccape Dubai, melainkan keberadaan 20 tim top dunia yang berjuang mencari chicken dinner.
Tim-tim tersebut bukan sembarangan, karena berasal dari kualifikasi dari 6 regional. Satu di antara yang istimewa, dan inilah yang membuat saya bersemangat, adalah keberadaan tim asal Indonesia, Bigetron. Tim yang berisikan si Kembar; Bagas dan Bagus, Robby dan Galang, ini memiliki potensi besar. Mereka adalah jagoan terbaik PUBG Mobile Indonesia.
Terlepas dari hasil yang kurang memuaskan sampai tadi malam, namun setidaknya keberadaan mereka menjadi satu di antara pendorong gelora guna melewati penerbangan 8 jam dari Jakarta ke Dubai. Selain itu, paket PMSC 2018 ini tak sekadar dari sisi tim.
Saat saya keluar dari bandara internasional Dubai (DXB), suasana kejuaraan selevel 'piala dunia' PUBG Mobile memang tak berasa. Nyaris tak ada umbul-umbul, poster, baliho apalagi selebaran. Promosi di dunia digital juga kurang.
Namun, semua itu tak menjadi halangan bagi para penggila PUBG Mobile untuk datang, menyaksikan dan menikmati saling menambang angka dari 'kills' dan 'place'. Semua itu dibarengi dengan fakta dugaan saya yang meleset jauh.